Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang andil inflasi tahunan terbesar di Indonesia sepanjang tahun 2025. Temuan ini menyoroti dinamika harga komoditas global yang signifikan terhadap perekonomian domestik.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa tren kenaikan harga emas di pasar internasional yang berlanjut hingga akhir tahun menjadi pendorong utama. Mureks mencatat bahwa pada Desember 2025, inflasi bulanan (month to month/mtm) tercatat sebesar 0,64 persen.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Emas Perhiasan Dominasi Inflasi
Pudji Ismartini secara spesifik menyebutkan kontribusi emas perhiasan terhadap inflasi. “Emas dan emas perhiasan memberikan sumbangan andil inflasi tahunan terbesar pada tahun 2025. Komoditas ini menjadi komoditas utama penyumbang inflasi bulanan sebanyak 11 kali di tahun 2025,” ujarnya dalam Konferensi Pers di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Sepanjang tahun lalu, emas perhiasan memberikan andil inflasi sebesar 0,79 persen. Kenaikan harga emas dunia yang berkelanjutan menjadi faktor krusial. Harga rata-rata emas global pada tahun 2025 mencapai 3.442 dollar AS per troy ounce, meningkat tajam dari 2.388 dollar AS per troy ounce pada tahun 2024.
Komoditas Lain Pemicu Inflasi
Selain emas perhiasan, inflasi tahunan 2025 juga dipengaruhi oleh kenaikan harga di sebagian besar kelompok pengeluaran. Beberapa komoditas lain yang memiliki andil besar terhadap inflasi tahunan meliputi:
- Cabai merah: 0,18 persen
- Ikan segar, cabai rawit, dan beras: masing-masing 0,15 persen
- Daging ayam ras dan tarif air minum PAM: masing-masing 0,14 persen
- Bawang merah: 0,10 persen
- Sigaret Kretek Mesin (SKM): 0,06 persen
Inflasi Kumulatif dan Kelompok Pengeluaran
BPS melaporkan bahwa secara kumulatif hingga Desember 2025, tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) maupun secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 2,92 persen. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan inflasi tahunan pada tahun 2024.
Pudji Ismartini menambahkan, jika dilihat dari kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 4,58 persen dan memberikan andil inflasi terbesar, yakni 1,33 persen. “Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, dan daging ayam ras,” jelasnya.
Kelompok pengeluaran lain yang juga memberikan andil inflasi tahunan dominan adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 13,33 persen dengan andil 0,87 persen, yang secara signifikan didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan.




