Keuangan

BBCA Tertekan Arus Keluar Dana Asing, Benarkah Ini Sinyal Rebound di 2026?

Sepanjang 2025, pasar saham Indonesia diwarnai derasnya arus keluar dana asing. Namun di balik angka-angka penjualan tersebut, ada cerita menarik tentang saham perbankan jumbo, khususnya PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), yang mulai menunjukkan sinyal pembalikan arah pada hari ini (2/1/2026).

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total net sell asing di pasar saham mencapai Rp17,34 triliun sepanjang 2025. Pada perdagangan terakhir, investor asing kembali membukukan jual bersih Rp938,13 miliar.

BBCA menjadi saham dengan tekanan paling besar. Sepanjang 2025, saham bank swasta terbesar di Indonesia ini mencatatkan net sell asing tertinggi, mencapai Rp28,2 triliun. Tekanan serupa juga dialami bank-bank besar lain seperti BMRI (Rp13,34 triliun), BBRI (Rp9,33 triliun), dan BBNI (Rp4,29 triliun). Fenomena ini menunjukkan bahwa aksi jual asing bukan bersifat sektoral sempit, melainkan rotasi besar dari saham perbankan berkapitalisasi jumbo.

Klik di sini untuk update berita tentang BBCA dan saham lainnya!

Asing Keluar, IHSG Justru Cetak Rekor

BBCA
IHSG live chart hari ini, 2 Januari 2026

Menariknya, derasnya outflow asing terjadi saat kinerja pasar saham justru terbilang impresif. Sepanjang 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 22,13% secara year to date ke level 8.646,94.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengungkapkan bahwa IHSG bahkan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Setahun ini 24 kali all time high. Jadi pencapaian ini tidak saja merupakan kerja dari OJK, SRO, dan Bursa, tapi sumbangsih kita semua,” ujarnya dalam konferensi pers.

Kapitalisasi pasar BEI pun menembus Rp16.000 triliun, didukung rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp18,06 triliun.

Kenapa BBCA Dilepas Asing?

Bbca
Bbca live chart hari ini (2/1/2026)

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menjelaskan bahwa tekanan pada BBCA dan bank jumbo lainnya dipicu oleh suku bunga acuan global yang masih tinggi. Kondisi ini mendorong investor asing merotasi dana ke sektor non-bank sepanjang 2025.

Namun, pola tersebut mulai berubah di akhir tahun. “Arah aliran dana asing pada 2026 memiliki peluang bergeser kembali ke saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan jumbo,” kata Ekky.

Ia menambahkan, BBCA dan BMRI mulai kembali mencatatkan net buy asing menjelang akhir 2025, menjadi indikasi awal fase rebalancing.

Tiga Katalis BBCA di 2026

Menurut Ekky, ada tiga faktor utama yang bisa mendorong kembalinya dana asing ke BBCA pada 2026. Pertama, potensi penurunan suku bunga global.

“Jika The Fed memasuki fase pelonggaran lebih konsisten, investor global cenderung menambah eksposur pada saham-saham defensif dan likuid seperti BBCA,” ujarnya.

Kedua, dari sisi domestik, prospek pertumbuhan kredit, stabilitas rupiah, dan peluang penurunan BI Rate menjadi kombinasi positif bagi sektor perbankan. Ketiga, valuasi BBCA dinilai masih berada di bawah rata-rata historisnya, membuka ruang re-rating saat laba kembali tumbuh.

Baca juga: BBCA Tertahan di Level 8.000, Sinyal Konsolidasi atau Ancaman Koreksi Jelang 2026?

Analis Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer, juga menilai arus dana asing 2026 akan lebih selektif dan berbasis fundamental.

“Kembalinya arus dana asing ke bank jumbo seperti BBCA di akhir 2025 kami kira sebagai sinyal awal rebalancing,” tambahnya.

Meski mencatatkan net sell asing terbesar sepanjang 2025, BBCA justru mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan minat investor global. Dengan fundamental yang solid, valuasi menarik, dan potensi pelonggaran moneter, BBCA berpeluang kembali menjadi magnet dana asing di 2026.

Bagi investor, ini saat yang tepat untuk mencermati pergerakan BBCA lebih dekat. Apakah tekanan 2025 justru menjadi pintu masuk menuju peluang di 2026? Pantau terus perkembangan saham BBCA dan strategi investasimu mulai sekarang.

Klik mureks untuk tahu artikel menarik lainnya!

Mureks