Internasional

Analis: “Menyerang Korut Tak Semudah Venezuela,” Pyongyang Uji Rudal Balistik Pertama 2026

Korea Utara meluncurkan beberapa rudal balistik di lepas pantai timurnya pada Minggu (4/1/2026), menandai uji coba pertama di tahun ini. Peluncuran ini terdeteksi oleh militer Korea Selatan hanya beberapa jam sebelum Presiden Korea Selatan dijadwalkan bertolak ke China untuk pertemuan puncak.

Aksi Pyongyang ini juga terjadi menyusul operasi militer Amerika Serikat (AS) yang kontroversial terhadap Venezuela. AS dilaporkan menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari negaranya, sebuah skenario yang disebut sebagai ‘mimpi buruk’ bagi pemerintah Korea Utara yang telah lama menuduh AS berupaya menggulingkan rezimnya.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Kementerian Pertahanan Korea Selatan menyatakan telah mendeteksi “beberapa proyektil, diduga rudal balistik” yang ditembakkan dari dekat ibu kota Korea Utara, Pyongyang, sekitar pukul 07.50 pagi waktu setempat (22.50 GMT Sabtu). “Militer mempertahankan kesiapan penuh, setelah memperkuat pengawasan dan kewaspadaan terhadap kemungkinan peluncuran tambahan,” demikian pernyataan Korea Selatan, seperti diberitakan AFP.

Kementerian Pertahanan Jepang juga mengonfirmasi deteksi rudal balistik tersebut, yang menurut mereka mendarat di lokasi tak ditentukan sekitar pukul 08.08 pagi waktu setempat (23.08 GMT Sabtu).

Uji coba rudal balistik ini merupakan yang pertama bagi Pyongyang sejak November lalu. Kala itu, mereka melakukan uji coba setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui rencana Korea Selatan untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir.

<

Seorang analis, Hong Min dari Institut Unifikasi Nasional Korea, menilai operasi militer Trump terhadap Venezuela pada Sabtu kemungkinan besar berperan dalam keputusan Pyongyang untuk melakukan peluncuran rudal ini. Menurut Mureks, Korea Utara selama beberapa dekade berpendapat bahwa mereka membutuhkan program nuklir dan rudal sebagai pencegah dugaan upaya perubahan rezim oleh Washington, meskipun AS telah berulang kali menawarkan jaminan bahwa mereka tidak memiliki rencana semacam itu.

Pesan Tersirat Pyongyang

Hong Min menjelaskan, “Mereka kemungkinan takut bahwa jika AS memilih demikian, mereka dapat meluncurkan serangan presisi kapan saja, mengancam kelangsungan rezim.” Ia menambahkan, “Pesan yang tersirat kemungkinan adalah bahwa menyerang Korea Utara tidak akan semudah menyerang Venezuela.”

Uji coba tersebut juga bertepatan hanya beberapa jam sebelum Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung berangkat ke Beijing. Di sana, ia akan melakukan pembicaraan dengan mitranya, Xi Jinping, yang pemerintahannya merupakan pendukung ekonomi utama Korea Utara. Lee berharap dapat memanfaatkan pengaruh China atas Korea Utara untuk mendukung upayanya memperbaiki hubungan dengan Pyongyang.

Pyongyang sendiri telah secara signifikan meningkatkan uji coba rudal dalam beberapa tahun terakhir. Para analis mengatakan upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan serangan presisi, menantang AS serta Korea Selatan, dan menguji senjata sebelum berpotensi mengekspornya ke Rusia.

Perluasan Produksi Rudal

Korea Utara juga akan mengadakan kongres penting partai penguasanya dalam beberapa minggu mendatang, yang pertama dalam lima tahun. Kebijakan ekonomi, serta perencanaan pertahanan dan militer, kemungkinan akan menjadi agenda utama dalam konklave tersebut.

Menjelang kongres, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah memerintahkan “perluasan” dan modernisasi produksi rudal negara serta pembangunan lebih banyak pabrik untuk memenuhi permintaan yang meningkat. Pada Minggu, media pemerintah melaporkan bahwa Kim telah mengunjungi fasilitas yang terlibat dalam pembuatan senjata berpemandu taktis. Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) yang dikelola pemerintah menyatakan bahwa Kim memerintahkan fasilitas tersebut untuk memperluas kapasitas produksi saat ini sebesar 250 persen.

Mureks