Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) menyatakan tidak lagi terlalu berharap pada subsidi pemerintah untuk menggairahkan pasar kendaraan listrik (EV) roda dua pada periode 2026. Kebijakan insentif fiskal yang diterapkan pada 2025 dinilai “pepesan kosong” dan membuat pasar lesu.
Ketua Umum Aismoli, Budi Setiyadi, menjelaskan bahwa pihaknya memahami prioritas pemerintah saat ini. “Terkait insentif, Aismoli memahami bahwa pemerintah memiliki berbagai prioritas strategis yang lebih luas dan penting,” ungkap Budi Setiyadi saat dihubungi Mureks pada Jumat, 02 Januari 2026.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Budi mengakui bahwa subsidi motor listrik sebelumnya cukup membantu mendongkrak penjualan sejumlah merek seperti Alva, Gesits, Rakata, dan United, serta meningkatkan minat masyarakat terhadap EV. Namun, ia menegaskan komitmen industri untuk tetap tumbuh meski tanpa insentif. “Namun tanpa insentif pun industri tetap berkomitmen untuk tumbuh,” lanjut Budi.
Aismoli Dorong Kebijakan Non-Fiskal
Untuk mendongkrak penjualan motor listrik pada 2026, Aismoli memandang kebijakan non-fiskal sebagai alternatif yang lebih strategis. Salah satu contoh yang diusulkan adalah implementasi Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2022.
Inpres tersebut mengatur penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai sebagai kendaraan dinas operasional dan atau kendaraan perorangan dinas di instansi pemerintah pusat maupun daerah. Kebijakan ini dianggap penting sebagai langkah percepatan transisi energi.
Tujuannya adalah mendorong penggunaan EV di lingkungan pemerintahan melalui berbagai skema, seperti pembelian motor listrik, sewa, atau konversi kendaraan lama. Aismoli menilai, dengan banyaknya lembaga pemerintah yang menggunakan EV, pasar dapat kembali bergairah dan stok motor listrik milik pabrikan dapat segera terjual, tidak lagi mengendap di gudang seperti yang terjadi pada 2025.
Target Penjualan 100 Ribu Unit pada 2026
Di tengah kondisi tersebut, Aismoli memasang target penjualan motor listrik yang cukup ambisius untuk tahun 2026, yakni 100 ribu unit. Ketua Umum Aismoli menjabarkan beberapa faktor pendukung yang diyakini dapat mewujudkan target tersebut.
Menurut pantauan Mureks, faktor-faktor pendukung tersebut meliputi kesiapan ekosistem EV di dalam negeri. “Terutama pemerataan infrastruktur, keandalan produk serta layanan purna jual yang semakin matang,” pungkas Budi.
Dengan berbagai kesiapan tersebut, diharapkan masyarakat akan semakin terdorong untuk beralih dari kendaraan roda dua konvensional ke motor listrik, terutama untuk memenuhi kebutuhan mobilitas sehari-hari.






