Keuangan

Wisatawan Domestik Lebih Pilih Yogyakarta daripada Bali saat Libur Nataru 2025-2026

Yogyakarta mencatat lonjakan signifikan kunjungan wisatawan domestik selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026. Fenomena ini menandai pergeseran preferensi perjalanan, berbanding terbalik dengan Bali yang selama ini menjadi primadona destinasi liburan.

Yogyakarta Alami Lonjakan Kunjungan, Bali Tergerus

Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menyoroti perubahan pola ini. Menurutnya, lonjakan turis domestik ke Yogyakarta begitu masif hingga menimbulkan dampak pada kenyamanan warga lokal.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

“Kita memang melihat kemarin-kemarin itu ada lonjakan jumlah turis domestik yang cukup signifikan gitu. Sampai Jogja itu sendiri nggak nyaman buat orang Jogja gitu,” ujar Ferry secara virtual pada Rabu, 7 Januari 2026. Pergeseran ini, menurut Mureks, dipengaruhi oleh faktor biaya, kenyamanan, dan ketersediaan alternatif destinasi.

Di sisi lain, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) melaporkan penurunan okupansi hotel di Bali. Selama periode Nataru, okupansi hotel di Pulau Dewata anjlok hingga sekitar 30 persen.

Research Executive Departemen Riset Colliers Indonesia, Saskia Ananda, menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor, salah satunya adalah maraknya vila yang kini menjadi kompetitor langsung bagi hotel.

“Secara statistik kunjungan wisatawan sebenarnya meningkat, tapi harga kamar hotel saat Nataru biasanya premium dan dianggap terlalu tinggi bagi sebagian tamu,” kata Saskia.

Saskia menambahkan, vila-vila menawarkan harga yang lebih kompetitif dengan fasilitas yang tidak kalah menarik dibandingkan hotel. Hal ini mendorong wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, untuk beralih menginap di vila.

“Harga-harga yang ditawarkan oleh vila-vila itu lebih menarik, lebih kompetitif dibandingkan hotel. Kemudian dengan fasilitas yang diberikan oleh vila-vila tersebut juga gak kalah dengan hotel,” jelas Saskia.

“Nah itu kemungkinan bisa jadi kenapa okupansinya berkurang itu dari situ, mereka (wisatawan) memilih untuk stay di vila,” lanjutnya.

Faktor Jarak dan Biaya Jadi Penentu

Selain Bali, sebagian wisatawan domestik juga memilih destinasi alternatif lain seperti Solo, Labuan Bajo, atau bahkan perjalanan ke luar negeri. Namun, Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung menjadi pilihan utama.

Ferry Salanto menjelaskan, faktor jarak dan keterjangkauan biaya menjadi alasan utama mengapa Yogyakarta kini menjadi tujuan favorit. Bandung dipilih karena kedekatannya, sementara Yogyakarta dinilai masih terjangkau bagi wisatawan dari Jakarta maupun kota-kota besar lainnya.

“Intinya, Jogja itu sekarang menjadi destinasi orang Surabaya setelah Bandung kalau kita lihat ya. Karena kan memang dua kota ini kan, pertama kalau Bandung memang karena jarak, dia dekat, dan Jogjakarta itu memang masih terjangkau buat orang Jakarta,” ungkap Ferry.

Meskipun menghadapi dinamika kunjungan wisatawan yang berbeda, Bali tetap menjadi tujuan menarik bagi investasi. Mureks mencatat bahwa investor asing yang menyewa maupun membeli apartemen di Bali didominasi oleh warga negara Rusia. Rusia juga menjadi salah satu negara yang cukup dominan dalam pembangunan properti di sana.

Referensi penulisan: money.kompas.com

Mureks