Nasional

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Capai Nol Rupiah Biaya Buang Sampah Lewat Pengelolaan Mandiri

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil menekan biaya pembuangan sampah hingga nol rupiah per bulan. Pencapaian ini diraih setelah kampus tersebut mengoperasikan fasilitas pengelolaan sampah mandiri di dalam kawasan kampus, sehingga tidak lagi bergantung pada tempat pembuangan akhir (TPA).

Sebelumnya, UMY menganggarkan dana sebesar Rp10 juta setiap bulan untuk retribusi pembuangan sampah. Jika ditotal dengan biaya tenaga angkut, pengeluaran tahunan kampus untuk pengelolaan sampah bisa mencapai Rp150 juta. Kini, seluruh biaya tersebut berhasil dihemat.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Inisiatif Berawal dari Krisis Sampah DIY

Kebijakan pengelolaan sampah mandiri ini berawal dari keresahan UMY terhadap krisis sampah yang melanda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya kondisi TPA Piyungan yang semakin terbebani dan keterbatasan lahan pengolahan di wilayah Yogyakarta.

Fasilitas Rumah Pengolahan Sampah UMY diresmikan pada 27 Desember 2024. Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Nurmandi, mengungkapkan motivasi di balik inisiatif ini. “Saya bilang daripada kita kita buang-buang itu kan pemerintah juga kesulitan tuh lahan ngolah sampah. Nah, bisa nggak UMY ini mengolah sampahnya mandiri,” kata Achmad kepada Pandangan Jogja, Jumat (19/12/2025).

Dengan luas lahan 35 hektare dan sekitar 44 gedung, UMY mencatat bahwa produksi sampah di lingkungannya berkisar antara 300 kilogram hingga 1 ton setiap harinya. Sampah tersebut terdiri dari daun kering, sisa makanan, serta limbah anorganik seperti plastik dan kertas.

Sistem Pengolahan dan Ekonomi Sirkular

Di Rumah Pengolahan Sampah, seluruh limbah dipilah secara ketat. Sampah organik berupa daun diolah menjadi pupuk kompos melalui proses selama 35 hari. Sementara itu, sisa makanan biasanya diambil oleh para pegawai untuk pakan ternak. Adapun sampah residu yang tidak dapat diolah dibakar menggunakan insinerator.

Pengelolaan mandiri ini juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular untuk menunjang kesejahteraan petugas lapangan. Sampah anorganik yang memiliki nilai jual, seperti botol plastik dan kardus, dipilah untuk kemudian dijual kepada pengepul. Hasil penjualan tersebut, yang rata-rata mencapai Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per bulan, tidak masuk ke kas universitas, melainkan diberikan langsung kepada para petugas pemilah.

“Nah, kemudian yang anorganik ini dipilah, kemudian dijual untuk kesejahteraan mereka yang milah itu. Ya, ambil aja untuk mereka,” tutur Achmad.

Direktur Operasi dan Infrastruktur Berkelanjutan UMY, Surya Budi Lesmana, menambahkan bahwa olahan sampah juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. “Contohnya adalah para petani, itu kita berikan kesempatan untuk mengambil pupuk organik yang telah kita hasilkan. Jadi mereka tidak bayar, tapi ngangkut sendiri karena kita nggak punya angkutan. Jadi mereka boleh ngambil,” jelas Surya.

Melibatkan Mahasiswa dalam Inovasi Teknologi

Fasilitas pengelolaan sampah mandiri UMY tidak hanya difungsikan sebagai unit operasional, tetapi juga menjadi ruang belajar langsung bagi mahasiswa. Salah satu bentuk keterlibatan mahasiswa adalah dalam pembuatan alat press botol plastik yang digunakan di Rumah Pengolahan Sampah. Seluruh proses pembuatan alat ini, mulai dari penyusunan konsep hingga desain, dilakukan oleh mahasiswa.

Kepala Sub Direktorat Infrastruktur Berkelanjutan UMY, Ferriawan, menjelaskan pendekatan ini. “Dari mahasiswa punya konsep, terus diorderkan ke vendor pembuat sehingga sesuai kebutuhan. Terus kalau ada masalah itu nanti juga kita bisa sharing ke mahasiswa masalahnya ada di mana,” kata Ferriawan.

Pendekatan ini sejalan dengan visi universitas untuk menjadikan area pengelolaan sampah sebagai rumah edukasi lingkungan, sekaligus membentuk kebiasaan berkelanjutan sebelum mahasiswa terjun ke masyarakat. “Karena kan nanti ke depannya juga problem solving-nya kan mereka. Ya mahasiswa itu kan mecahin masalah,” tambah Ferriawan, menegaskan peran penting mahasiswa dalam mencari solusi masalah lingkungan di masa depan.

Mureks