Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan militer lanjutan terhadap Venezuela. Ancaman ini dilontarkan jika pemerintah sementara Venezuela menolak untuk bekerja sama dalam membuka industri minyak AS dan menghentikan perdagangan narkoba.
Dikutip dari Reuters, pernyataan Trump tersebut juga mencakup potensi operasi militer di Kolombia dan Meksiko. Ia bahkan menyebut rezim komunis Kuba “tampaknya siap runtuh” dengan sendirinya. Hingga berita ini diturunkan, Kedutaan Besar Kolombia dan Meksiko di Washington belum memberikan tanggapan resmi.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Ancaman Trump ini muncul menjelang jadwal persidangan Presiden Venezuela Nicolas Maduro di pengadilan AS di New York pada Senin, 5 Januari 2026, waktu setempat. Maduro sendiri telah ditahan pascaoperasi penggerebekan militer di Caracas pada Sabtu, 3 Januari 2026.
Para pejabat pemerintahan Trump menilai penangkapan Maduro sebagai tindakan penegakan hukum untuk meminta pertanggungjawaban atas tuduhan konspirasi narkoterorisme yang diajukan pada tahun 2020. Namun, Trump menegaskan bahwa ada faktor lain yang turut memicu penggerebekan tersebut.
Menurutnya, masuknya imigran Venezuela ke AS dan keputusan negara itu untuk menasionalisasi kepentingan minyak AS beberapa dekade lalu menjadi pemicu utama. “Kita mengambil kembali apa yang mereka curi,” tegas Trump di atas pesawat Air Force One saat kembali ke Washington dari Florida pada Minggu, 4 Januari 2026.
Trump menyatakan bahwa perusahaan minyak AS akan kembali ke Venezuela untuk membangun kembali industri perminyakan negara tersebut. “Mereka akan menghabiskan miliaran dolar dan akan mengambil minyak dari dalam tanah,” kata dia.
Pemerintahan Maduro Tetap Tegak, Tolak Tunduk pada AS
Di tengah tekanan dari AS, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez, yang bertindak sebagai pemimpin interim, menegaskan bahwa Nicolas Maduro tetaplah Presiden sah Venezuela. Delcy juga membantah klaim Trump mengenai kesediaannya untuk bekerja sama dengan AS.
“Hanya ada satu Presiden di negara ini, namanya adalah Nicolas Maduro,” tegas Delcy pada Minggu, 4 Januari 2026, sebagaimana dilansir Al Jazeera. Mureks mencatat bahwa pernyataan ini menunjukkan sikap tegas Venezuela dalam menghadapi intervensi asing.
Delcy Rodriguez juga menyerukan persatuan rakyat Venezuela. “Kami menyerukan kepada rakyat tanah air untuk tetap bersatu karena apa yang dilakukan terhadap Venezuela dapat dilakukan terhadap siapa pun. Penggunaan kekerasan brutal untuk membengkokkan kehendak rakyat dapat dilakukan terhadap negara mana pun,” imbuh dia.
Nicolas Maduro dituduh memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok perdagangan narkoba besar, seperti Kartel Sinaloa dan Geng Tren de Aragua. Maduro sendiri membantah semua tuduhan tersebut.
Jaksa Penuntut AS menyatakan bahwa Maduro mengarahkan rute perdagangan kokain, menggunakan militer sebagai perlindungan pengiriman, melindungi kelompok-kelompok perdagangan narkoba, dan memanfaatkan fasilitas kepresidenan untuk memindahkan narkoba. Rentetan tuduhan ini pertama kali diajukan pada tahun 2020 dan kemudian diperbarui pada Sabtu, 3 Januari 2026, untuk menjerat istri Maduro, Celia Flores, dengan tuduhan memerintahkan penculikan dan pembunuhan.




