Nasional

Trump: “Kita Ambil Kembali Apa yang Mereka Curi” dari Venezuela, Tuntut Akses Minyak dan Hentikan Narkoba

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan ancaman serangan lanjutan terhadap Venezuela. Ultimatum ini akan dilancarkan jika pemerintah sementara Venezuela tidak menunjukkan kerja sama dalam membuka industri minyak AS dan menghentikan perdagangan narkoba.

Ancaman tersebut disampaikan Trump saat meninjau operasi militer AS di Venezuela dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, pada Sabtu (3/1). Dikutip dari Reuters, Trump juga memperingatkan kemungkinan operasi militer di Kolombia dan Meksiko. Ia bahkan menyebut rezim komunis Kuba “tampaknya siap runtuh” dengan sendirinya.

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Hingga berita ini diturunkan, Kedutaan Besar Kolombia dan Meksiko di Washington belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Trump.

Maduro Ditahan, Akan Disidang di AS

Pernyataan Trump ini muncul menjelang jadwal kehadiran Presiden Venezuela Nicolas Maduro di pengadilan AS di New York pada Senin (5/1) waktu setempat. Maduro sendiri telah ditahan pascaoperasi penggerebekan militer di Caracas pada Sabtu (3/1).

Para pejabat pemerintahan Trump menilai penangkapan Maduro sebagai tindakan penegakan hukum. Mereka ingin meminta pertanggungjawaban Maduro atas tuduhan konspirasi narkoterorisme yang diajukan pada tahun 2020.

Namun, Trump menegaskan bahwa ada faktor lain yang turut memicu penggerebekan tersebut. Ia menyebut masuknya imigran Venezuela ke AS dan keputusan negara itu untuk menasionalisasi kepentingan minyak AS beberapa dekade lalu sebagai pemicu utama.

“Kita mengambil kembali apa yang mereka curi,” tegas Trump di atas pesawat Air Force One saat kembali ke Washington dari Florida pada Minggu (4/1).

Trump menambahkan, perusahaan minyak AS akan kembali ke Venezuela untuk membangun kembali industri perminyakan negara tersebut. “Mereka akan menghabiskan miliaran dolar dan akan mengambil minyak dari dalam tanah,” kata dia.

Venezuela Menentang Klaim AS

Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, yang menjabat sebagai pemimpin interim, menentang keras klaim Trump. Ia menegaskan bahwa Nicolas Maduro tetaplah Presiden sah Venezuela dan membantah bersedia bekerja sama dengan AS.

“Hanya ada satu Presiden di negara ini, namanya adalah Nicolas Maduro,” tegas Rodriguez pada Minggu (4/1), sebagaimana dilansir Al Jazeera.

Rodriguez juga menyerukan persatuan rakyat Venezuela. “Kami menyerukan kepada rakyat tanah air untuk tetap bersatu karena apa yang dilakukan terhadap Venezuela dapat dilakukan terhadap siapa pun. Penggunaan kekerasan brutal untuk membengkokkan kehendak rakyat dapat dilakukan terhadap negara mana pun,” imbuh dia.

Menurut Mureks, Maduro dituduh memberikan dukungan pada kelompok-kelompok perdagangan narkoba besar, seperti Kartel Sinaloa dan Geng Tren de Aragua. Maduro sendiri membantah semua tuduhan tersebut.

Jaksa Penuntut mengatakan, Maduro mengarahkan rute perdagangan kokain, menggunakan militer sebagai perlindungan pengiriman, melindungi kelompok-kelompok perdagangan narkoba, dan menggunakan fasilitas kepresidenan untuk memindahkan narkoba. Rentetan tuduhan ini pertama kali diajukan pada 2020 dan diperbarui pada Sabtu (3/1) untuk menjerat istri Maduro, Celia Flores, dengan tuduhan memerintahkan penculikan dan pembunuhan.

Mureks