Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Kolombia memuncak tajam menyusul pernyataan keras Presiden AS Donald Trump. Setelah operasi militer AS menyingkirkan Presiden Nicolas Maduro di Venezuela, Trump kini secara terbuka mengancam intervensi serupa terhadap Kolombia, memicu respons tegas dari Presiden Gustavo Petro.
Trump Tuding Petro Terlibat Narkotika, Ancam Intervensi Militer
Dalam pernyataan kepada wartawan di pesawat Air Force One pada Minggu (4/1/2026), Presiden Donald Trump menyebut Kolombia sebagai negara yang “sangat sakit”. Ia menuding pemerintahan Kolombia dipimpin oleh “orang sakit yang senang membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat,” merujuk langsung pada Presiden Gustavo Petro.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
“Dia punya pabrik-pabrik kokain dan fasilitas pengolahan kokain dan dia tidak akan melakukannya terlalu lama,” tegas Trump, seperti dilansir The Guardian. Ketika ditanya apakah Kolombia dapat menjadi sasaran intervensi militer AS layaknya Venezuela, Trump menjawab singkat, “Kedengarannya bagus bagi saya.”
Mureks mencatat bahwa tuduhan ini muncul meskipun tidak ada bukti yang menunjukkan keterlibatan Petro, yang terpilih pada 2022, dalam bisnis narkotika. Kolombia memang merupakan produsen kokain terbesar di dunia, namun selama bertahun-tahun, negara ini justru menjadi mitra utama Washington dalam memerangi perdagangan narkoba dan menikmati dukungan lintas partai di Amerika Serikat.
Hubungan kedua negara memburuk drastis sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden. Perdagangan narkotika di Kolombia selama ini dikuasai oleh kelompok bersenjata ilegal, termasuk Clan del Golfo, Tentara Pembebasan Nasional (ELN), serta faksi-faksi pembangkang dari kelompok gerilya Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC) yang sebagian besar anggotanya telah melucuti senjata setelah perjanjian damai 2016.
Petro Membantah Keras, Siap Angkat Senjata Demi Tanah Air
Presiden Gustavo Petro dengan keras menolak tuduhan Trump. Melalui platform X, Petro menyebut tudingan tersebut sebagai fitnah. “Saya bukan tidak sah dan saya bukan seorang narco,” tulis Petro. “Trump berbicara tanpa pengetahuan. Hentikan memfitnah saya.”
Petro juga melontarkan peringatan keras terhadap kemungkinan serangan militer AS, menyatakan bahwa tindakan tersebut justru akan memicu perlawanan luas di dalam negeri. “Jika mereka [AS] mengebom, para petani akan berubah menjadi ribuan gerilyawan di pegunungan. Dan jika mereka menahan presiden yang dicintai dan dihormati oleh sebagian besar rakyat, mereka akan melepaskan ‘jaguar’ rakyat,” ujar Petro.
Mantan anggota kelompok gerilya kiri M-19 di masa mudanya ini, meskipun diyakini tidak pernah terlibat langsung dalam pertempuran, memiliki rekam jejak politik yang panjang. Setelah M-19 membubarkan diri pada awal 1990-an, Petro terlibat dalam penyusunan konstitusi baru Kolombia 1991, membangun reputasi sebagai legislator berpengaruh, dan menjabat wali kota ibu kota sebelum terpilih sebagai presiden.
Dalam pernyataannya, Petro bahkan mengisyaratkan kesiapan pribadi menghadapi eskalasi ekstrem. “Saya bersumpah tidak akan menyentuh senjata lagi… tetapi demi tanah air, saya akan mengangkat senjata kembali,” katanya.
Menanggapi meningkatnya ancaman, Menteri Pertahanan Kolombia Pedro Sánchez mengumumkan pada Sabtu bahwa pengamanan terhadap Presiden Petro telah diperketat. Ancaman Trump memicu reaksi luas di Kolombia, dengan suara penolakan terhadap kemungkinan serangan militer AS datang dari berbagai spektrum politik, meskipun sejumlah tokoh oposisi sayap kanan menyatakan dukungan terhadap Trump.
Hubungan AS-Kolombia Memburuk, Sanksi dan Intervensi Militer Meningkat
Hubungan Washington dan Bogota telah memburuk dalam beberapa bulan terakhir. AS mencabut visa Presiden Petro pada September setelah ia menyerukan kepada tentara AS untuk menolak perintah ilegal. Pada Oktober, AS juga menjatuhkan sanksi finansial terhadap Petro, istrinya, serta sejumlah pembantu dekatnya.
Pada saat yang sama, ketika AS meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Karibia dan melakukan pengeboman terhadap kapal-kapal yang dicurigai membawa narkoba untuk menekan rezim Maduro di Venezuela, pasukan AS juga dilaporkan melakukan serangan terhadap kapal-kapal di wilayah Samudra Pasifik timur, di sebelah barat pantai Kolombia.






