Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam menyoroti efektivitas kebijakan insentif kendaraan ramah lingkungan di Indonesia. Ia mengungkapkan, insentif yang dikucurkan pemerintah untuk mobil listrik (BEV) justru membebani negara hingga Rp 11 triliun, sementara insentif untuk mobil hybrid terbukti lebih menguntungkan secara ekonomi.
Pernyataan tersebut disampaikan Bob Azam dalam TMMIN Media Gathering di Bandung, Jumat (9/1/2026). Menurutnya, arah pengembangan industri otomotif nasional harus mempertimbangkan investasi teknologi yang mampu menurunkan emisi dan meningkatkan efisiensi bahan bakar, seperti hybrid, plug-in hybrid (PHEV), dan BEV.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Perbandingan Insentif Mobil Listrik dan Hybrid
Bob Azam menekankan pentingnya perhitungan rasional dari sisi ekonomi dalam setiap kebijakan insentif. “Tapi kita harus hitung cost and benefitnya. Untuk mobil listrik kan sekarang pemerintah mengucurkan Rp13 triliun insentif, meng-create revenue Rp2 triliun. Jadi bersih 11 triliun itu pemerintah mengeluarkan insentif,” jelas Bob.
Berbeda dengan mobil listrik, insentif untuk kendaraan hybrid menunjukkan hasil yang lebih positif bagi keuangan negara. “Untuk hybrid pemerintah mengalokasikan Rp400 miliar, tapi kita bisa meng-create Rp6 triliun. Jadi sebenarnya even dikasih relaksasi oleh pemerintah, tapi revenue yang diperoleh lebih besar lagi,” tambahnya.
Catatan Mureks menunjukkan, perbandingan ini mengindikasikan bahwa insentif yang diberikan untuk teknologi hybrid menghasilkan pendapatan negara yang jauh lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan, sebuah kontras tajam dengan insentif BEV.
Masa Depan Industri dan Pasar Ekspor
Melihat perbandingan tersebut, Bob Azam berharap insentif untuk kendaraan hybrid dapat terus dilanjutkan. Hal ini dinilai krusial untuk mendorong transformasi teknologi di industri otomotif nasional dan memperkuat posisi Indonesia di pasar ekspor.
- “Jadi melihat pertimbangan ini kita berharap bahwa insentif untuk hybrid ini bisa terus dilanjutkan supaya ada transformasi teknologi,” ujar Bob.
- Ia menambahkan, “Kemudian juga kita lihat pasar ekspor otomotif ke depan ini akan didominasi oleh elektrifikasi terutama hybrid.”
Selain elektrifikasi, Bob Azam juga menyoroti potensi teknologi flexifuel, yaitu penggunaan bahan bakar campuran etanol. Teknologi ini telah menjadi fenomena di beberapa negara seperti Amerika Serikat, India, dan Amerika Selatan.
“Jadi teknologi yang bisa meng-adopt flexifuel ini juga kita berharap bisa diberikan insentif supaya Indonesia tetap bisa menjadi basis produksi, basis ekspor kendaraan-kendaraan dengan teknologi terbaru,” pungkasnya, menekankan perlunya adaptasi cepat agar Indonesia tidak tertinggal dalam pengembangan teknologi kendaraan global.






