Sebanyak 62 kasus Super Flu, atau infeksi influenza A (H3N2), telah terdeteksi di Indonesia. Kondisi ini memicu pertanyaan mengenai perbedaan signifikan antara Super Flu dengan flu biasa yang kerap menyerang masyarakat.
Menanggapi fenomena ini, Ahli Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia (UI), dr. Ngabila Salama, menjelaskan bahwa meskipun sama-sama disebut flu, kedua kondisi tersebut memiliki tingkat keparahan, penyebab, dan dampak yang sangat berbeda terhadap tubuh.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Perbedaan Flu Biasa dan Super Flu
Menurut dr. Ngabila, flu biasa umumnya disebabkan oleh infeksi virus seperti rhinovirus, coronavirus non-COVID, dan adenovirus. Infeksi ini cenderung menyerang hidung dan tenggorokan, serta menimbulkan gejala yang relatif ringan.
“Flu biasa ditandai dengan pilek, bersin, batuk ringan, sakit tenggorokan, demam ringan atau bahkan tanpa demam, serta badan yang terasa agak pegal,” kata Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta itu.
Dalam kebanyakan kasus, flu biasa dapat sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu 3 hingga 5 hari. Penderita masih dapat beraktivitas, meskipun mungkin merasa sedikit tidak nyaman.
Berbeda dengan flu biasa, istilah Super Flu digunakan secara awam untuk menggambarkan kondisi flu dengan gejala yang jauh lebih berat. Mureks mencatat bahwa kondisi ini umumnya merujuk pada infeksi influenza A atau B yang lebih agresif, infeksi campuran, atau flu yang menyerang saat daya tahan tubuh sedang menurun.
Dr. Ngabila menjelaskan, Super Flu memiliki sifat sistemik yang menyerang seluruh tubuh. “Seluruh badan ‘kena’, jauh lebih melumpuhkan,” tegasnya.
Gejala Super Flu yang Perlu Diwaspadai
Gejala Super Flu meliputi demam tinggi mendadak dengan suhu di atas 38,5 derajat Celsius, nyeri otot berat hingga badan terasa remuk, sakit kepala hebat, batuk kering yang kuat, serta lemas ekstrem yang membuat penderitanya sulit bangun dari tempat tidur.
“Super Flu juga bisa disertai mual, muntah, atau diare,” tambah dr. Ngabila.
Dari sisi durasi, Super Flu cenderung berlangsung lebih lama, yakni sekitar 7 hingga 14 hari. Kondisi ini juga berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti radang paru (pneumonia) dan sinusitis berat, terutama pada kelompok rentan. Kelompok rentan ini meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta atau komorbiditas.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Dr. Ngabila mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan atau dokter apabila mengalami gejala Super Flu yang disebutkan di atas, terutama jika gejala memburuk atau tidak kunjung membaik.






