Nasional

Sambut Tahun Baru 2026: Pentingnya Menjaga Lisan sebagai Kunci Kebaikan dan Keberkahan Hidup

Memasuki tahun 2026, banyak orang menyambutnya dengan harapan dan resolusi baru. Namun, Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), Syarif Yunus, mengajak untuk menyikapi lembaran baru ini dengan fokus yang lebih mendalam: menjaga lisan dan terus memperbaiki diri.

Menurut Syarif Yunus, setiap awal tahun adalah momentum untuk introspeksi. “Bismillah, begitulah kata yang pantas untuk mengawali perjalanan tahun 2026 ini. Sebab lisann kita adalah awal dari nasib kita esok. Dan setiap kata yang kita ucapkan punya kekuatan besar dalam membentuk hidup di masa mendatang,” ujarnya.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Ia menekankan bahwa kekuatan ucapan sangat luar biasa, mampu memengaruhi perasaan, tindakan, dan pada akhirnya realitas yang kita alami. Lisan yang positif, kata Syarif, akan membangkitkan harapan dan kebaikan. Sebaliknya, kata-kata negatif hanya akan membawa beban dan kesulitan.

Syarif Yunus mengingatkan tentang hukum tabur tuai yang berlaku di dunia ini. “Ketika kita melukai orang lain dengan perkataan, sejatinya kita sedang melukai diri kita sendiri. Begitu pula saat kita merusak harga diri orang lain, kita juga sedang merusak nilai diri kita,” jelasnya. Oleh karena itu, menjaga lisan dari perkataan buruk adalah kunci untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang buruk pula.

Mureks mencatat bahwa pesan ini bukan kali pertama disampaikan oleh Syarif Yunus. Ia mengenang momen sembilan tahun lalu, tepatnya 1 Januari 2017, di Masjid Nabawi Madinah, saat ia berpesan kepada istri dan anak-anaknya untuk senantiasa menjaga lisan. Baginya, lisan bukan hanya simbol akhlak, tetapi juga refleksi dari pikiran dan hati seseorang.

“Berusahalah untuk menjadi lisan di mana pun. Sebab saat kita berbicara dengan cinta, kebaikan, dan ketulusan, Insya Allah kehidupan kita akan terjaga dalam kesehatan, kedamaian, dan keberkahan. Sesederhana itu saja,” tuturnya.

Syarif juga menyoroti bahwa manusia tidak harus sempurna atau berusaha menyenangkan semua orang. Banyak yang justru stres karena memikul beban ekspektasi yang tidak perlu. Ia mengajak untuk menyadari bahwa sebagai manusia biasa, kita pasti memiliki salah, khilaf, dan lalai. Namun, yang terpenting adalah niat untuk selalu memperbaiki diri dan berikhtiar, termasuk dalam menjaga lisan. Selebihnya, serahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tidak semua hal harus dibenahi atau dibereskan. Syarif menyarankan untuk bersikap proporsional dan mengambil tanggung jawab sesuai peran masing-masing, bukan untuk memenuhi ekspektasi orang lain. “Penuhi saja yang diperintah Allah, jauhi yang tidak relevan. Manusia tidak disuruh untuk sempurna tapi harus seimbang. Dunia akhirat, lahir batin, jasmani rohani, semuanya harus seimbang,” pungkasnya.

Di tahun baru 2026 ini, pesan utama Syarif Yunus adalah menjaga lisan sebagai cerminan hati dan pikiran. Jika menginginkan hasil yang berbeda, maka perubahan harus dimulai dari cara bicara dan berpikir. Dengan ikhtiar dan doa yang baik, hidup akan lebih tenang, tidak berisik, dan fokus pada perbaikan diri untuk menebar manfaat kepada sesama.

Mureks