Pemandangan balita asyik menatap layar gawai, dengan jemari lincah menggeser video YouTube, kini menjadi hal yang lumrah di berbagai tempat publik, bahkan di rumah. Situasi ini seringkali menjadi “solusi instan” bagi orang tua muda di tengah kesibukan. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran akan dampak terhadap tumbuh kembang anak.
Mureks mencatat bahwa data Kementerian Kesehatan menunjukkan 1 dari 4 anak Indonesia menghabiskan waktu di atas batas rekomendasi untuk screen time, yaitu hanya satu jam per hari untuk anak usia 2-5 tahun. Sementara itu, dunia pendidikan terus bergerak cepat dengan Kurikulum Merdeka Belajar yang mendorong pembelajaran relevan. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa mengubah gawai dari sekadar “pengasuh digital” pasif menjadi jendela ilmu yang membuka wawasan anak?
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Tantangan utama bukan lagi pada boleh atau tidaknya anak menggunakan teknologi, melainkan bagaimana teknologi yang ada dapat menghadirkan meaningful learning atau pembelajaran bermakna bagi Anak Usia Dini (AUD). Pembelajaran bermakna adalah proses yang kontekstual, terhubung dengan kehidupan sehari-hari, dan melibatkan anak secara aktif untuk berpikir serta berinteraksi, bukan sekadar menonton pasif. Artikel ini akan mengulas cara-cara praktis untuk mewujudkannya, agar screen time menjadi investasi berharga bagi tumbuh kembang anak yang cerdas dan kritis.
Mengapa Teknologi Belum Mencapai Pembelajaran Bermakna pada AUD?
Penggunaan teknologi pada Anak Usia Dini (AUD) seringkali belum mencapai tahap meaningful learning karena beberapa faktor krusial:
- Dominasi Konten Pasif vs. Kebutuhan Belajar Aktif
Di lapangan, teknologi bagi AUD umumnya berfungsi sebagai “kotak gambar bergerak”. Anak-anak dikondisikan menjadi konsumen pasif dari video singkat dan game repetitif. Padahal, menurut teori perkembangan kognitif Piaget, anak usia dini berada pada tahap pra-operasional, di mana mereka belajar paling efektif melalui interaksi fisik dan sosial dengan lingkungan nyata.
- Kurangnya “Teknologi sebagai Jembatan” ke Dunia Nyata
Permasalahan utama lainnya adalah kesenjangan antara yang dilihat di layar dengan realita. Seorang anak mungkin hafal lagu tentang buah-buahan di YouTube, tetapi belum tentu dapat merasakan tekstur kulit jeruk atau mencium baunya. Pembelajaran bermakna terjadi ketika ada koneksi kuat antara konsep abstrak di layar dengan pengalaman konkret di dunia nyata.
- Hilangnya Peran Pendamping sebagai “Interpreter”
Banyak orang tua dan pendidik beranggapan bahwa dengan memberikan gawai, mereka telah memberikan “edutainment” terbaik. Padahal, kehadiran pendamping berkualitas adalah kunci utama untuk mengubah konten digital menjadi pembelajaran bermakna. Pendamping berperan sebagai “penerjemah” yang menghubungkan konten di layar dengan konteks kehidupan anak, serta sebagai pemicu interaksi.
Kelebihan dan Kekurangan Teknologi untuk Pembelajaran Bermakna AUD
A. Kelebihan Teknologi bila Dimanfaatkan dengan Prinsip Meaningful Learning
- Memperluas Akses pada Sumber Belajar yang Kaya dan Interaktif
Teknologi meruntuhkan batas dinding kelas. Anak-anak di mana pun dapat mengamati video binatang langka di savana Afrika, melihat video time-lapse pertumbuhan tanaman, atau mendengarkan cerita dari budaya lain dengan visual menarik. Sumber belajar ini, jika dipilih dengan baik, jauh lebih kaya dan hidup dibandingkan gambar statis di buku. Menurut NAEYC, teknologi yang tepat dapat memperkaya pengalaman belajar dengan menyediakan akses ke materi dan orang-orang yang tidak akan terjangkau secara fisik.
- Mendorong Keterlibatan Aktif dan Kreativitas (Active Creation)
Berbeda dengan menonton pasif, teknologi dapat menjadi kanvas digital bagi anak. Aplikasi yang memungkinkan anak menggambar, merekam suara mereka bercerita, atau menyusun balok virtual untuk membangun sebuah struktur, mendorong mereka menjadi pencipta (creator). Proses “membuat” inilah inti dari pembelajaran bermakna. Sebuah laporan oleh The Joan Ganz Cooney Center menyebutkan bahwa aktivitas berbasis kreasi dengan teknologi dapat lebih efektif untuk pembelajaran awal daripada aplikasi yang hanya menuntut konsumsi.
- Memfasilitasi Pembelajaran yang Diferensiasi dan Personal
Setiap anak memiliki gaya dan kecepatan belajar yang unik. Teknologi, melalui aplikasi edukasi yang baik, dapat menyesuaikan tingkat kesulitan berdasarkan respons anak. Hal ini memungkinkan pembelajaran yang lebih personal, di mana anak tidak merasa terbebani atau justru bosan. Teknologi dapat memberikan tantangan yang sesuai dengan zona perkembangan terdekatnya (Vygotsky’s ZPD), sesuatu yang sulit dilakukan secara massal dalam setting kelas tradisional.
B. Kekurangan/Tantangan Teknologi jika Tidak Dikelola dengan Bijak
- Berpotensi Mengurangi Interaksi Sosial dan Pengalaman Sensorimotor Langsung
Ini adalah kekurangan paling krusial. Terlalu banyak waktu di depan layar dapat mengurangi kesempatan anak untuk berlari, memegang tekstur tanah, bermain peran dengan teman, atau belajar membaca ekspresi wajah secara langsung. American Academy of Pediatrics (AAP) secara tegas mengingatkan bahwa pengalaman fisik, sosial, dan bermain bebas adalah fondasi kritis bagi perkembangan otak, tubuh, dan keterampilan sosial anak. Teknologi tidak boleh menggantikan, melainkan hanya melengkapi, pengalaman-pengalaman fundamental ini.
- Risiko Konten yang Tidak Sesuai dan Perilaku Pasif (Binge-Watching)
Lautan konten di internet sangat luas dan tidak semuanya ramah untuk anak. Tanpa pengawasan ketat, anak dapat terpapar iklan manipulatif, konten kekerasan, atau konten yang terlalu cepat paced-nya untuk sistem saraf mereka. Selain itu, algoritma platform seringkali dirancang untuk membuat pengguna “terjebak” dalam siklus menonton video berikutnya secara pasif (binge-watching), yang sangat bertolak belakang dengan prinsip pembelajaran bermakna yang aktif.
- Ketergantungan dan Dampak pada Kesehatan
Penggunaan teknologi berlebihan dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan pada anak, termasuk gangguan tidur (karena cahaya biru dari layar), obesitas (karena kurang gerak), dan masalah perilaku seperti mudah marah serta sulit memusatkan perhatian. Tantangan terbesar orang tua dan pendidik adalah menetapkan batasan jelas untuk mencegah ketergantungan, yang pada akhirnya dapat menghambat pencapaian tujuan pembelajaran bermakna itu sendiri.
Teknologi bukanlah musuh dalam pembelajaran anak usia dini, melainkan sebuah alat yang kuat. Kunci pemanfaatannya terletak pada pergeseran paradigma—dari sekadar digital babysitter yang menenangkan, menjadi cognitive tool yang merangsang pikiran.
Keberhasilan meaningful learning di era digital ditentukan oleh:
- Pemilihan konten yang aktif, kreatif, dan bermakna.
- Kehadiran pendamping yang berperan sebagai “penerjemah” dan pemandu, bukan sekadar pengawas.
- Integrasi yang seimbang, di mana teknologi menjadi pemantik untuk menjelajahi dunia nyata, bukan penggantinya.
Artikel ini ditulis oleh Aulia Zafarani, Mahasiswa S1 Manajemen Pendidikan Islam Universitas Pamulang, untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Pendidikan.






