Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan bahwa sebanyak 213 ribu rumah warga terdampak akibat serangkaian bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Data ini diperoleh dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Tito menjelaskan, rumah-rumah yang terdampak tersebut diklasifikasikan ke dalam tiga kategori kerusakan, yaitu rusak ringan, sedang, dan berat. “Sehingga total rumah yang terdampak itu lebih kurang 213.000,” ujar Tito dalam rapat koordinasi di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026).
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Sementara itu, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memberikan rincian lebih lanjut mengenai dampak di Provinsi Aceh. Menurutnya, khusus untuk Aceh, jumlah rumah yang mengalami kerusakan mencapai 61 ribu unit.
“Kami melaporkan bahwa per hari ini khusus Aceh saja, rumah yang rusak berat tercatat 61.795 rumah,” kata Suharyanto.
Mureks mencatat bahwa tidak semua masyarakat yang rumahnya terdampak memilih untuk meminta hunian sementara (Huntara) dari pemerintah. Suharyanto menambahkan, dari total 61.795 rumah yang rusak di Aceh, hanya 23.432 rumah yang mengajukan permintaan hunian sementara.
“Dari 61.795 rumah tersebut, yang meminta hunian sementara, Bapak, itu tercatat ada 23.432 rumah. Jadi kami laporkan bahwa tidak semua yang masyarakat terdampak itu mau tinggal di Huntara, Bapak. Ada juga yang memilih mereka tinggal dengan keluarganya, tercatat di kami ada 11.414 orang,” jelasnya.
Rapat koordinasi ini merupakan bagian dari upaya Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Pascabencana yang sebelumnya juga telah mengadakan pertemuan di Kota Banda Aceh, Aceh, pada Selasa (30/12/2025), untuk membahas langkah-langkah penanganan dan pemulihan pascabencana.





