Moskow melayangkan peringatan keras terhadap rencana pengerahan pasukan penjaga perdamaian multinasional di Ukraina. Rusia melabeli Ukraina dan negara-negara pendukungnya di Eropa sebagai “poros perang” menyusul kesepakatan untuk menyiapkan pasukan tersebut sebagai jaminan keamanan bagi Kyiv.
Pernyataan ini merupakan respons pertama Moskow setelah sekutu Ukraina menyepakati paket jaminan keamanan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Paris pada Kamis (8/1). Amerika Serikat (AS) juga menyatakan kesiapan untuk turut serta dalam inisiatif ini.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Rusia: Pasukan Asing Target Militer Sah
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menegaskan bahwa setiap pasukan asing yang ditempatkan di Ukraina akan dianggap sebagai target militer yang sah oleh Angkatan Bersenjata Rusia.
“Semua unit dan fasilitas tersebut akan dianggap sebagai target militer yang sah bagi Angkatan Bersenjata Rusia,” ujar Zakharova dalam pernyataan resminya, seperti dikutip Mureks pada Jumat (9/1).
Moskow secara konsisten menolak keterlibatan negara-negara NATO dalam bentuk pasukan penjaga perdamaian dan telah memperingatkan risiko serangan Rusia terhadap pasukan semacam itu. Rusia menilai rencana tersebut bersifat militeristik dan tidak menawarkan prospek nyata untuk mengakhiri konflik yang kini telah memasuki tahun keempat.
Zakharova menyebut deklarasi militer dari apa yang disebutnya sebagai “Koalisi yang Bersedia” bersama pemerintah Kyiv sebagai langkah yang berbahaya dan merusak. “Deklarasi militer baru ini membentuk ‘poros perang’ yang nyata,” katanya, seperti dilansir Reuters.
Mandat dan Mekanisme Belum Jelas
Kesepakatan yang dicapai di Paris membuka peluang bagi Inggris, Prancis, dan sekutu Eropa lainnya untuk mengerahkan pasukan ke Ukraina setelah gencatan senjata tercapai. Namun, rincian mengenai mandat dan mekanisme keterlibatan pasukan tersebut belum dijelaskan secara gamblang.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sendiri menyatakan bahwa Kyiv belum menerima jawaban tegas mengenai langkah yang akan diambil pasukan tersebut jika Rusia kembali melancarkan serangan. Ukraina juga mengakui bahwa isu-isu krusial seperti status wilayah Donbas dan pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia masih belum terselesaikan.






