Tren

Rupiah Melemah 0,13 Persen, Data Pekerjaan AS Perkuat Dolar dan Bayangi Ekonomi Global

Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada Jumat (9/1/2026), tertekan oleh sentimen eksternal yang menguat setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih baik dari perkiraan pasar. Pelemahan ini mendorong penguatan dolar AS dan memicu pergeseran portofolio investor ke aset berdenominasi dolar, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pada penutupan perdagangan di Jakarta, rupiah tercatat melemah 21 poin atau 0,13 persen, bergerak ke level Rp16.819 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.798 per dolar AS. Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, mengonfirmasi bahwa data pekerjaan AS menjadi faktor utama di balik pelemahan ini.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

Data Ketenagakerjaan AS Solid, Kebijakan Moneter Ketat Berlanjut

“Rupiah masih melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat setelah data-data pekerjaan yang lebih baik dari perkiraan,” ujar Ariston di Jakarta. Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa ekonomi AS masih solid, sekaligus membuka ruang bagi kebijakan moneter ketat untuk bertahan lebih lama.

Catatan Mureks menunjukkan, beberapa laporan penting dari AS turut mendukung sentimen penguatan dolar:

  • Pemutusan Hubungan Kerja (PHK): Challenger, Gray & Christmas melaporkan PHK menurun 8,3 persen year on year (yoy) pada Desember 2025, mencapai 35.553, level terendah sejak Juli 2024.
  • US Initial Jobless Claims: Untuk pekan yang berakhir 3 Januari 2025, klaim naik menjadi 208 ribu dari 200 ribu pada pekan sebelumnya, namun tetap di bawah ekspektasi pasar sebesar 212 ribu.
  • Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS): Departemen Tenaga Kerja AS merilis laporan November 2025 yang menunjukkan lowongan pekerjaan menurun menjadi 7,14 juta, turun dari 7,44 juta dibandingkan Oktober.
  • Perubahan Ketenagakerjaan Automatic Data Processing (ADP): Penggajian swasta meningkat 41 ribu pada Desember, meskipun kurang dari perkiraan 47 ribu, namun menandai peningkatan yang jelas dari kehilangan pekerjaan 29 ribu pada November.

Faktor Internal dan Keyakinan Konsumen

Selain faktor eksternal, Ariston juga menyebutkan bahwa pelemahan rupiah sebelumnya mendapatkan dorongan dari persoalan bencana di Sumatera serta stimulus fiskal dan moneter yang belum mengangkat pertumbuhan ekonomi Indonesia secara signifikan. “Pelemahan rupiah ini sebelumnya juga mendapatkan dorongan dari persoalan bencana (Sumatera) dan stimulus fiskal serta moneter yang belum mengangkat pertumbuhan ekonomi Indonesia,” jelasnya.

Namun, pelemahan rupiah sedikit tertahan oleh laporan Bank Indonesia (BI) terkait keyakinan konsumen. Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan bahwa keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat pada Desember 2025. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2025 yang berada pada level optimis, yakni sebesar 123,5 (indeks lebih dari 100).

“Kalau lihat bulannya adalah Desember, indeks kepercayaan konsumen lebih baik karena peningkatan konsumsi jelang akhir tahun,” pungkas Ariston, menjelaskan fenomena peningkatan konsumsi menjelang akhir tahun yang turut menopang keyakinan konsumen.

Mureks