Tren

Perubahan Taktik Drastis Manchester United di Era Fletcher: Sesko Lebih Produktif, Amorim Ditinggalkan

Manchester United kembali gagal meraih kemenangan di Premier League setelah ditahan imbang 2-2 oleh Burnley di Turf Moor Stadium pada Kamis (8/1) dini hari WIB. Hasil ini menjadi sorotan, terutama dengan dua gol yang dicetak Benjamin Sesko. Namun, laga tersebut juga diwarnai kesalahan individu Ayden Heaven dan satu gol balasan dari Anthony untuk Burnley.

Meski demikian, pertandingan ini menyimpan sinyal penting mengenai arah baru tim. Manchester United menunjukkan pendekatan yang berbeda di bawah arahan manajer karteker, Darren Fletcher. Perubahan ini, menurut pantauan Mureks, sangat signifikan dibandingkan era manajer sebelumnya, Ruben Amorim.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Tiga Perubahan Kunci di Bawah Darren Fletcher

Darren Fletcher melakukan sejumlah penyesuaian taktis yang mencolok, berbeda dari strategi Ruben Amorim. Tim redaksi Mureks mencatat bahwa perubahan ini terlihat jelas pada cara membangun serangan, pemanfaatan pemain kunci, hingga struktur formasi.

1. Mengurangi Umpan Jauh, Memperbanyak Crossing

Pada era Ruben Amorim, Manchester United sangat mengandalkan umpan jauh sebagai jalur progresi bola. Pemain seperti Lisandro Martinez dan Leny Yoro menjadi aktor utama, bahkan kiper Senne Lammens turut terlibat dalam distribusi bola panjang.

Di bawah Darren Fletcher, pendekatan ini berubah drastis. MU tidak lagi agresif mengirim umpan panjang vertikal. Fletcher lebih mendorong umpan diagonal untuk menggeser blok pertahanan lawan dan membuka ruang di sisi lapangan. Perubahan ini berdampak pada intensitas crossing, di mana wingback MU lebih sering melepas umpan silang dari area lebar. Gol kedua Sesko menjadi contoh konkret dari efektivitas strategi ini, sesuatu yang jarang terlihat pada era Amorim yang lebih mengutamakan dribel menusuk.

2. Peran Benjamin Sesko Lebih Sentral sebagai Target Man

Benjamin Sesko mencatatkan delapan tembakan saat menghadapi Burnley, sebuah rekor pribadi bagi sang striker selama berseragam Manchester United. Fletcher menempatkan Sesko sebagai target man murni, menjadikannya fokus utama serangan.

Ia kini menerima suplai crossing dan cut-back untuk diselesaikan di kotak penalti. Situasi ini kontras dengan era Amorim, di mana Sesko lebih sering berperan sebagai pemantul bola. Eksekusi akhir kerap diambil oleh winger atau wingback yang masuk ke kotak penalti, membuat kontribusi gol Sesko relatif tereduksi.

3. Pergeseran Formasi dan Kebangkitan Bruno Fernandes

Perbedaan paling mencolok terlihat pada struktur permainan. Ruben Amorim konsisten dengan formasi 3-4-3, meskipun hasilnya kerap mengecewakan dan menuai kritik. Darren Fletcher langsung mengubah pendekatan tersebut.

MU kini tampil dengan formasi 4-2-3-1, menggunakan empat bek sejajar dan menempatkan Luke Shaw sebagai bek kiri. Perubahan ini turut menghidupkan kembali peran Bruno Fernandes. Ia kembali dimainkan sebagai playmaker murni di belakang striker, posisi yang lebih efektif baginya. Pada era Amorim, Bruno lebih sering beroperasi sebagai gelandang nomor delapan, jauh dari area krusial yang menjadi kekuatannya.

Mureks