LONDON, Mureks – Arsenal gagal memanfaatkan peluang emas untuk memperlebar jarak di puncak klasemen Premier League setelah ditahan imbang Liverpool dalam laga sengit pada Jumat, 9 Januari 2026. Hasil ini tidak hanya mengecewakan para penggemar, tetapi juga menjadi pengingat bagi skuad Mikel Arteta bahwa jalan menuju gelar juara masih panjang dan penuh tantangan.
Pertandingan yang berlangsung di Emirates Stadium tersebut menunjukkan betapa alotnya persaingan di liga kasta tertinggi Inggris. Meski datang dengan harapan tinggi, The Gunners justru tampil di bawah standar, kesulitan menemukan ritme permainan yang biasa mereka tunjukkan.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Tekanan Berat di Setiap Poin
Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, tidak menampik kekecewaan atas hasil tersebut. Namun, ia memahami bahwa tekanan dan kesulitan adalah bagian tak terpisahkan dari perburuan gelar Premier League. Menurut Arteta, perasaan beratnya mengumpulkan poin demi poin sudah ia rasakan sejak awal musim.
“Saya sudah punya perasaan ini sejak Agustus,” ujar Arteta, menegaskan intensitas persaingan. “Setiap poin didapat lewat kerja keras, banyak di antaranya tak terlihat, di tempat latihan, perjalanan, gym, ruang rapat, memproses informasi, mencoba hal baru, berlatih, mengulang, bermain, memulihkan diri, dan menyerap ekspektasi yang terus datang.”
Arteta menambahkan bahwa kondisi serupa juga dirasakan oleh seluruh pihak di liga. Standar kompetisi yang sangat tinggi menjadikan setiap pertandingan sebagai ujian berat, tanpa terkecuali.
“Kami semua merasakan hal yang sama. Setiap manajer, setiap pemain, setiap tim. Karena inilah level liga ini dan Anda bisa melihat betapa sulitnya,” lanjutnya, menggambarkan betapa kompetitifnya Premier League.
Arsenal Kehilangan Ritme dan Kontrol
Catatan Mureks menunjukkan, setelah awal yang cukup menjanjikan dengan dominasi Bukayo Saka dan Jurrien Timber di sisi kanan, permainan Arsenal perlahan memudar. Kurangnya intensitas dan sinkronisasi membuat mereka gagal menaikkan tempo permainan. Liverpool, di sisi lain, tampil terkontrol dan disiplin, berhasil meredam upaya serangan Arsenal.
Arteta menilai timnya terlalu sering kehilangan bola di area yang tidak perlu, sebuah kesalahan mendasar yang jarang mereka lakukan. “Kami memberikan bola-bola yang sangat tidak perlu,” kata Arteta. “Itu di bawah standar yang biasa kami tunjukkan.”
Tantangan di Lini Depan dan Momen Emosional
Di lini serang, Arsenal menghadapi tantangan serius. Banyak umpan silang yang sebenarnya jatuh di area berbahaya, namun Viktor Gyokeres tampak kesulitan menemukan pijakan di tengah tekanan perburuan gelar. Situasi ini menjadi kontras, mengingat Arsenal mampu bertahan di puncak klasemen meski tanpa Kai Havertz, minim kontribusi Gabriel Jesus, dan striker baru yang belum sepenuhnya menyatu sejak didatangkan dari Sporting.
Frustrasi tim memuncak di akhir laga. Gabriel Martinelli, yang dimasukkan untuk mencari perubahan, bereaksi keras terhadap cedera Conor Bradley. Momen emosional ini secara jelas mencerminkan desperasi dan tekanan yang dirasakan para pemain Arsenal malam itu.
Hasil imbang ini menjadi alarm bagi Arsenal, bahwa konsistensi dan performa puncak harus terus dijaga jika mereka ingin mengakhiri penantian panjang untuk meraih gelar Premier League.






