Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, melabeli para demonstran anti-pemerintah sebagai “pembuat onar” yang berupaya “menyenangkan presiden AS”. Pernyataan keras ini muncul di tengah gelombang protes yang telah memasuki hari ke-13 di berbagai kota di Iran, memicu ketegangan diplomatik antara Teheran dan Washington.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Jumat (9/1), Khamenei menegaskan sikap menantang. “Biarkan semua orang tahu bahwa Republik Islam berkuasa melalui darah ratusan ribu orang terhormat dan tidak akan mundur menghadapi mereka yang mengingkari hal ini,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa Iran “tidak akan menghindar dari berurusan dengan unsur-unsur perusak” dalam pidato kepada para pendukungnya.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Di sisi lain, Iran telah mengirimkan surat kepada Dewan Keamanan PBB, menuduh Amerika Serikat bertanggung jawab mengubah aksi protes menjadi “tindakan subversif kekerasan dan vandalisme yang meluas”. Duta Besar Iran untuk PBB secara spesifik menuduh AS “mencampuri urusan internal Iran melalui ancaman, hasutan, dan dorongan yang disengaja terhadap ketidakstabilan dan kekerasan.”
Respons Keras dari Washington
Presiden AS Donald Trump tidak tinggal diam. Ia menyatakan Iran “dalam masalah besar” dan mengancam akan “menghantam mereka dengan sangat keras di titik yang paling menyakitkan.” Pernyataan ini disampaikan Trump di Gedung Putih pada Jumat (9/1), seraya menambahkan bahwa pemerintahannya memantau situasi dengan cermat namun keterlibatan AS tidak berarti “pengerahan pasukan darat.”
Trump juga mengklaim, “Menurut saya, orang-orang tampaknya menguasai kota-kota tertentu yang beberapa minggu lalu tidak terpikirkan oleh siapa pun.” Ancaman serupa pernah dilontarkan Trump pada Kamis sebelumnya, di mana ia berjanji akan “menghantam mereka dengan sangat keras” jika pemerintah Iran “mulai membunuh orang.”
Gelombang Protes dan Korban Jiwa
Aksi protes yang dimulai pada 28 Desember 2025 ini awalnya dipicu oleh masalah ekonomi, namun dengan cepat berkembang menjadi demonstrasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Tuntutan para pengunjuk rasa kini meluas, menyerukan diakhirinya Republik Islam dan bahkan ada beberapa pihak yang mendesak pemulihan monarki.
Menurut catatan Mureks, situasi di lapangan semakin memburuk dengan diberlakukannya pemadaman internet. Data mengenai korban jiwa dan penangkapan juga bervariasi dari berbagai sumber:
- Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS melaporkan setidaknya 48 demonstran dan 14 personel keamanan telah tewas.
- HRANA juga mencatat lebih dari 2.277 orang telah ditangkap sejak protes dimulai.
- Organisasi Hak Asasi Manusia Iran (IHRNGO) yang berbasis di Norwegia menyebutkan setidaknya 51 demonstran tewas, termasuk sembilan anak-anak.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat diperkirakan akan terus meningkat seiring berlanjutnya gelombang protes dan saling tuding antara kedua negara.






