Protes besar-besaran di Iran terus memanas pada Sabtu (10/1/2026), mendorong eks putra mahkota Iran, Reza Pahlavi, yang kini diasingkan di Amerika Serikat (AS), untuk menyerukan demonstran merebut kota-kota besar di negara tersebut. Pahlavi menegaskan bahwa tujuan aksi bukan hanya menguasai jalanan, melainkan mengambil alih pusat-pusat kota.
“Tujuan kami bukan cuma menguasai jalanan. Tujuan kami adalah bersiap merebut dan menguasai pusat-pusat kota,” ujar Pahlavi seperti dikutip AFP. Ia juga menyatakan keyakinannya untuk segera kembali ke tanah airnya. “Saya akan kembali ke tanah air saya, dan saya percaya waktunya sudah dekat,” tambahnya.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Gelombang demonstrasi ini telah berlangsung selama dua pekan terakhir, dipicu oleh krisis ekonomi yang parah dan melonjaknya biaya hidup, serta merosotnya nilai mata uang rial Iran. Situasi ini telah menyebabkan ketidakpuasan meluas di kalangan masyarakat.
Menanggapi aksi protes yang semakin meluas, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Jumat (9/1/2026) menuding Amerika Serikat berada di balik demonstrasi tersebut. Sementara itu, otoritas Iran berupaya meredam gejolak dengan memutus akses internet dan jaringan telepon di beberapa wilayah.
Laporan dari LSM pemantau hak asasi manusia (HAM) menyebutkan bahwa puluhan demonstran telah tewas selama dua pekan unjuk rasa berlangsung. Ini menunjukkan tingkat kekerasan dan eskalasi konflik antara demonstran dan aparat keamanan.
Menurut pantauan Mureks, warga memenuhi jalanan utama ibu kota Teheran sejak Jumat (9/1/2026), meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah seperti “Mati Khamenei”. Selain Teheran, demonstrasi juga pecah di kota Mashhad dan Tabriz, serta di kota suci umat Syiah, Qom.
Di kota Hamedan, para demonstran bahkan mulai mengibarkan bendera Iran era Dinasti Pahlavi, sebuah simbol yang mengingatkan pada masa sebelum Revolusi Republik Islam pada tahun 1979 yang dipimpin oleh ulama Syiah, yang mengakhiri kekuasaan dinasti tersebut.






