Minggu, 11 Januari 2026. Koridor kampus Universitas Pamulang terasa sunyi di telinga Kaluna Mahika, meski hiruk-pikuk aktivitas mahasiswa mengelilinginya. Langkah kakinya gontai, matanya sembab, dan rambutnya acak-acakan. Ia berjalan tanpa arah, seolah mencari sesuatu yang tak akan pernah kembali.
Dua bulan telah berlalu sejak takdir merenggut Brama, kekasih hatinya, tanpa aba-aba. Pagi itu, yang seharusnya menjadi awal hari penuh tawa, justru menjadi salam perpisahan yang tak terucapkan. Kenangan akan pagi terakhir itu masih begitu jelas, seolah baru terjadi kemarin.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Pagi Terakhir Penuh Tawa dan Rencana
Pukul tujuh pagi, dering telepon dari Brama memecah keheningan kamar Kaluna. Suaranya yang hidup di ujung sana selalu mampu menembus sinyal seluler, mengabarkan bahwa ia akan menjemput. Bagi Brama, sehari tanpa melihat wajah Kaluna terasa seperti kemarau panjang, meski libur perkuliahan baru saja usai dan mereka sering bertemu.
Motor Aerox merah itu berhenti tepat ketika lampu lalu lintas berubah merah. Di bawah matahari pagi yang mulai hangat, Brama sibuk mencuri pandang lewat kaca spion. Ia tersenyum melihat Kaluna yang justru sibuk memperhatikan kucing-kucing liar di trotoar. “Rembulan malam memang indah, tetapi wajah Kaluna Mahika adalah semesta lain yang tak ingin ia lewatkan sedetik pun,” demikian gambaran Brama tentang kekasihnya.
Setibanya di kedai bubur ayam langganan, Brama dengan sigap mengambil alih totebag kanvas milik Kaluna. Ritual tak tertulis ini telah mereka jalani selama dua tahun. Kaluna awalnya merasa aneh, namun kini ia paham, itu adalah bahasa cinta Brama. Punggung Brama adalah sandaran paling kokoh untuk segala beban, baik fisik maupun perasaan.
Sembari menunggu pesanan, Kaluna mengeluarkan iPad-nya. “Bram, coba lihat ini,” ucap Kaluna seraya menyodorkan layar gawai itu. Brama meraihnya, matanya menyipit fokus. “Wih, bagus. Cantik, lucu kayak Kaluna Gembul,” kekehnya. Ia melanjutkan, “Belum beres lagi cover-nya, Mbul?”
“Sudah beres, kok. Ini finalnya, tinggal dikirim ke penerbit,” jawab Kaluna. Brama tersenyum, “Syukur deh. Nanti kalau bukumu terbit, aku orang pertama yang beli,” ujarnya diiringi tawa renyah yang khas. “Aku kan fans garis kerasmu.”
Kaluna hanya tersenyum simpul, membiarkan Brama mengelus punggung tangannya. Banyak orang bilang Brama itu dingin dan irit bicara, tetapi di hadapan Kaluna, laki-laki itu berubah menjadi badut paling hangat sedunia.
Rencana Masa Depan yang Tak Pernah Sampai
Di hadapan uap panas bubur, mereka merajut masa depan. “Mbul, nanti aku mau langsung mengajukan proposal. Doakan, ya,” pinta Brama di sela suapannya. Kaluna membalas, “Aku selalu doakan kamu, tanpa diminta pun.” Namun, Brama bersikeras, “Harus diminta, biar Tuhan tahu aku butuh banget doa kamu.”
Percakapan mengalir ke mana-mana, dari urusan skripsi hingga hal konyol seperti cincin nikah. “Kalau cincin yang gede mau nggak, Mbul? Kayak akik yang dipakai Pakde kantin itu loh,” canda Brama. Kaluna tertawa lepas, “Idih, ogah! Kamu saja yang pakai, biar kayak dukun.”
Tawa itu. Itu adalah tawa terakhir yang terasa benar-benar hidup. Brama sempat bertanya tentang rumah impian di Lebak Bulus, tentang keinginan punya rumah kecil agar Kaluna tak capek menyapu, dan tentang ribuan rencana lain yang mereka susun rapi di atas kertas harapan.
Duka Mendalam Setelah Kehilangan Tiba-tiba
Namun, semua rencana itu buyar seketika. Rasa bubur di mulut Kaluna kini terasa hambar. Tidak ada tawa Brama, tidak ada candaan soal cincin akik. Hanya ada hiruk-pikuk kantin kampus yang bising, tetapi terasa sunyi di telinganya.
Rasanya baru kemarin Bunda meneleponnya di pagi buta, mengabarkan bahwa motor Aerox merah itu dihantam truk, dan Brama tak pernah bangun lagi. Rasanya baru kemarin ia berteriak histeris di ruang jenazah, memohon pada Tuhan untuk mengembalikan napas laki-laki itu.
Kini, sudah dua bulan berlalu. Ponsel Kaluna tak lagi berisik oleh notifikasi Brama. Tak ada lagi tangan hangat yang menggandengnya menyeberang jalan. Tak ada lagi yang memanggilnya “Mbul” dengan nada mengejek, tapi sayang. Catatan Mureks menunjukkan, duka mendalam akibat kehilangan kekasih hati secara tiba-tiba membuat dada Kaluna sesak.
Di sudut koridor dekat kamar mandi, pertahanan Kaluna runtuh. Aleena, sahabatnya, yang melihat kondisi Kaluna langsung mendekap tubuh ringkih itu. “Kaluna… nggak apa-apa kalau lo mau nangis. Tapi tolong janji sama gue, jangan hancur sendirian, ya?” bisik Aleena.
Kaluna tak bisa menjawab. Ia masih menyangkal, sulit menerima kenyataan bahwa takdir memisahkan mereka begitu cepat. Semua rencana di kedai bubur itu kini hanya menjadi hantu: proposal Brama, draf novel Kaluna yang tak kunjung ia kirim karena kehilangan pembaca pertamanya, hingga rencana rumah kecil di Lebak Bulus.
Orang bilang, setiap kejadian adalah pelajaran hidup, sekalipun itu hanya jatuh cinta. Namun, bagi Kaluna, belajar ikhlas melepaskan Brama adalah ujian terberat. Kisah sedih tentang rencana yang tak sampai ini mengajarkan Kaluna satu hal, terkadang, ‘sampai jumpa’ bisa berubah menjadi ‘selamat jalan’ tanpa aba-aba.
Di bawah langit kampus yang cerah, Kaluna menatap kosong, bergumam dalam hati, “Tuhan, jika Engkau mengambil dia agar aku belajar tentang kehilangan, mengapa rasanya aku justru kehilangan diriku sendiri?”






