Suatu pagi di ruang guru, Pak Wahyu, seorang guru Bahasa Indonesia, mengaduk kopi dengan senyum letih. “Sekarang tugas kami bukan cuma mengajar,” katanya, “tapi memastikan lauk Program Makan Bergizi Gratis tidak menetas belatung.” Pernyataan ini menggambarkan realitas baru di dunia pendidikan, di mana lembar RPP kini bersaing dengan laporan pendataan menu harian. Pendidikan, tampaknya, kini memiliki ‘dapur baru’ yang lebih sibuk daripada kelas.
Anggaran Pendidikan Tergerus, Kualitas Terancam
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir dengan janji besar: menekan stunting, meningkatkan konsentrasi belajar, dan mengantar Indonesia menuju 2045. Dalam pidato, program ini terdengar pahlawan, namun implementasinya menimbulkan kekhawatiran serius. Anggaran yang menyokong MBG sebagian besar diambil dari pos pendidikan.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Secara nominal, porsi 20 persen APBN untuk pendidikan memang tetap terpenuhi. Namun, setelah dikurangi untuk program makan, sisa anggaran untuk peningkatan kualitas sekolah menyempit drastis. Akibatnya, renovasi gedung tertunda, pelatihan guru dipangkas, dan perpustakaan sepi buku baru. Pohon pendidikan tetap terlihat kokoh, namun akarnya perlahan disedot.
Maladministrasi dan Tantangan Implementasi di Lapangan
Kasus demi kasus dari lapangan memperlihatkan masalah implementasi yang belum tertangani baik. Di berbagai daerah, makanan basi ditemukan, keracunan massal dilaporkan, serta menu yang tidak sesuai gizi dan budaya setempat. Catatan Mureks menunjukkan, Ombudsman bahkan mencatat adanya maladministrasi serius, mulai dari distribusi yang terlambat, kualitas yang tidak terjaga, hingga pengaduan masyarakat yang justru dibalas intimidasi.
Seorang ibu di Riau mengaku anaknya dikeluarkan dari PAUD setelah ia mengeluhkan menu yang mencurigakan. Di Papua, menu nasi kotak dianggap tidak cocok dengan pola makan lokal yang lebih beragam. Ironisnya, di kota-kota besar, dapur MBG mendadak tumbuh sebagai lahan bisnis yang menggiurkan, menggeser fokus dari tujuan utama program.
Manfaat Jangka Pendek vs. Tujuan Jangka Panjang
Tidak dapat dimungkiri, di banyak tempat program ini memang membantu. Anak-anak tidak lagi belajar dengan perut keroncongan, dan beberapa guru merasakan kelas sedikit lebih hidup. Namun, efek jangka pendek ini tidak boleh menggantikan tujuan jangka panjang pendidikan.
Pendidikan bukanlah kompetisi proyek cepat selesai, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan riset, evaluasi, dan kesabaran. Studi awal tentang manfaat MBG masih terbatas, berskala kecil, dan sering lahir dari proyek pemerintah sendiri. Kita membutuhkan penelitian independen yang objektif, bukan sekadar angka di paparan rapat.
Saya membayangkan seorang siswa bernama Rafin. Ia makan terburu-buru saat istirahat, lalu perutnya mulai mulas ketika guru menjelaskan pecahan. Ia izin ke UKS, dan jam pelajaran terus berjalan tanpa dirinya. Program makan seharusnya mendukung pembelajaran, bukan menciptakan antrean menuju toilet. Kualitas makanan tidak boleh sekadar menjadi checklist administrasi.
Reformasi Mendesak untuk Masa Depan Pendidikan
Oleh karena itu, kritik publik harus didengar, bukan dimusuhi. MBG adalah ide baik dengan pelaksanaan yang butuh koreksi mendalam. Program ini lebih tepat ditempatkan dalam skema perlindungan sosial atau kesehatan, bukan bergantung pada anggaran pendidikan. Pendidikan sudah cukup memikul beban: guru kekurangan pelatihan, sekolah membutuhkan laboratorium, dan perpustakaan menua.
Kita tidak ingin sekolah berubah menjadi lini produksi kotak nasi. Reformasi diperlukan: anggaran makan sebaiknya dipisah dari pos pendidikan, pengadaan harus transparan, dan keterlibatan UMKM tidak boleh hanya menjadi jargon kampanye. Evaluasi ilmiah jangka panjang perlu dilakukan untuk membuktikan apakah program ini benar-benar meningkatkan kemampuan kognitif anak.
Ada yang berujar bahwa anak kenyang akan lebih mudah belajar, dan itu benar. Tetapi, pendidikan jauh melampaui urusan perut. Ia soal guru yang berwibawa karena kompetensinya terlatih, soal kelas yang tidak tergenang saat hujan, dan soal buku yang mengubah cara memandang dunia. Makan gratis bisa membantu, tetapi tidak boleh menggerus inti pendidikan.
Kita ingin anak-anak tumbuh sehat, namun juga kritis; kenyang, namun juga berdaya pikir. Jangan sampai kita mencetak generasi yang kuat otot, tapi rapuh dalam logika. Negara perlu memastikan bahwa program makan tidak mempersempit ruang peningkatan mutu sekolah. Pertanyaan akhirnya sederhana: apakah kita hendak membangun masa depan bangsa melalui kelas yang kuat, atau cukup dengan dapur yang ramai? Pendidikan bukan hanya nasi dan lauk yang gratis. Ia fondasi peradaban, dan fondasi itu tidak boleh dikompromikan.






