Nasional

Polda Banten Ungkap Modus Pembunuhan Anak Politikus PKS: Pencet Bel Acak Cari Rumah Kosong

Polda Banten berhasil mengungkap modus operandi di balik pembunuhan tragis Muhammad Axle Harman Miller (9 tahun), putra Anggota Dewan Pakar PKS Maman Suherman. Axle ditemukan tewas dengan 20 tusukan di kediamannya di Kompleks BBS 3, Kota Cilegon, pada Selasa (16/12).

Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Banten, Kombes Pol Dian Setiawan, pada Senin (5/1) mengidentifikasi pelaku sebagai HA (31), seorang pegawai operator produksi di PT “CA”. HA, yang berasal dari Kota Palembang, diketahui tinggal di sebuah rumah kontrakan di Cilegon bersama istrinya.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Modus Operandi: Pencet Bel Acak Cari Rumah Kosong

Kombes Pol Dian Setiawan menjelaskan, HA awalnya berencana melakukan perampokan. Ia memilih target rumah secara acak dengan memencet bel untuk memastikan apakah rumah tersebut dalam keadaan kosong atau tidak.

“Modusnya adalah yang bersangkutan memencet bel sampai 3 kali sampai dengan 4 kali. Apabila tidak ada yang merespons dianggapnya itu adalah rumah kosong, sehingga yang bersangkutan akan meloncat pagar dan melakukan aksinya,” terang Dian saat jumpa pers di Polda Banten, Senin (5/1).

Apabila ada penghuni yang merespons bel, HA akan berpura-pura menanyakan alamat untuk mengelabui pemilik rumah.

Pada hari kejadian, Selasa (16/12), saat hujan lebat, HA tiba di rumah korban dan memencet bel berkali-kali tanpa ada respons. Merasa rumah kosong, HA kemudian melompati pagar antara pukul 13.30 WIB hingga 13.17 WIB.

Setelah berhasil masuk, HA menuju lorong samping rumah dan mencongkel kamar pembantu untuk masuk ke dalam. Mureks mencatat bahwa saat insiden terjadi, asisten rumah tangga (ART) dan pegawai lain di rumah tersebut sedang cuti.

Pelaku menggunakan penyamaran lengkap: masker, helm full face, sepatu, dan sarung tangan. “Yang bersangkutan menggunakan masker kemudian menggunakan helm full face, menggunakan sepatu bahkan menggunakan sarung tangan,” jelas Kombes Pol Dian Setiawan.

Di lantai satu, HA menemukan sebuah brankas besar namun gagal membukanya. Ia kemudian naik ke lantai dua.

Di lantai dua, HA membuka sebuah kamar dan menemukan korban Axle sedang bermain ponsel di atas kasur. Pelaku meminta Axle untuk tidak berteriak dan menanyakan lokasi brankas, namun korban mengaku tidak tahu.

“Selanjutnya korban dirangkul, dibawa kembali ke almari putih di dalam kamar utama bapaknya, di situ pelaku ini mau melakban korban,” kata Dian. Axle melawan dengan menendang pelaku sebanyak dua kali. “Dari situ pelaku langsung menusuk korban, korban sempat teriak (tapi) semakin ditusuk,” imbuh Dian.

Setelah melakukan penusukan, HA kembali turun ke lantai satu untuk mencoba membuka brankas lagi, namun tetap tidak berhasil. Ia kemudian kabur melalui jendela pembantu dan melompat pagar sekitar pukul 13.42 WIB.

Motif Ekonomi dan Kerugian Investasi Kripto

Kombes Pol Dian Setiawan menegaskan bahwa motif di balik kejahatan ini adalah masalah ekonomi. “Motif ekonomi. Diketahui oleh penyidik bahwa yang bersangkutan sebelumnya sempat bermain saham kripto dengan modal awal Rp 400 juta yang mana uang tersebut diperoleh dari tabungan dengan istri,” ungkap Dian, Senin (5/1).

Dian melanjutkan, “Dari Rp 400 juta ini dimainkan, berkembang sampai mendatangkan keuntungan Rp 4 miliar.” Namun, keserakahan berujung petaka. “Dari Rp 4 miliar ini yang bersangkutan belum puas kemudian dimainkan lagi sehingga yang bersangkutan kalah,” pungkas Dian, menjelaskan kerugian besar yang dialami HA dari investasi kripto tersebut.

Mureks