Di penghujung tahun 2025, lini masa media sosial diwarnai pemandangan yang kian lazim: rekaman CCTV bom molotov di rumah DJ Donny, serta insiden pengiriman bangkai ayam dan coretan piloks di mobil influencer Sherly Annavita. Kejadian-kejadian ini, yang seharusnya memicu keprihatinan, justru disambut dengan respons yang mengkhawatirkan dari sebagian netizen.
Jika insiden serupa terjadi dua dekade lalu, warga sekitar mungkin akan berjaga semalam suntuk. Namun, hari ini, kita cenderung menyaksikannya sambil menyeruput teh, lalu dengan sigap mengetik di kolom komentar, “palingan pengalihan isu” atau “cari panggung ya mbak?”. Fenomena ini, menurut pengamat kebijakan publik Fathin Robbani Sukmana, jauh lebih mengerikan dibandingkan ledakan bom molotov itu sendiri.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Netizen Mengidap Voyeurisme Teror
Fathin Robbani Sukmana berpendapat, netizen Indonesia sedang mengidap penyakit Voyeunisme Teror. Ini adalah pemahaman di mana kekerasan tidak lagi dilihat sebagai ancaman kemanusiaan, melainkan sebuah pertunjukan yang aktingnya harus dikritik. Mureks mencatat bahwa, teror yang menyerang DJ Dhony dan Sherly terlihat biasa saja, karena Netizen kehilangan rasa ngeri.
Saat melihat foto bangkai ayam yang dikirim ke DJ Donny dan mobil Sherly yang dicoret, saraf empati sebagian netizen tidak lagi bekerja secepat saraf “curiga”. Ini menunjukkan hilangnya common sense untuk merasa ngeri. Kondisi ini terjadi karena di ruang digital, realitas telah berubah dan mengalami apa yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagai The Precession of Simulcra.
Dalam teori ini, simulasi atau apa yang nampak di layar menjadi lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Teror yang menimpa Sherly dan Donny tidak lagi dianggap sebagai peristiwa fisik yang menyakitkan, melainkan sebagai “produk narasi”. Netizen tidak lagi peduli pada bau bensin yang menyengat di rumah orang, tapi lebih peduli pada apakah “skrip” teror ini masuk akal atau tidak dalam skema politik. Ini adalah cara berpikir yang sakit, namun sering dijumpai di kolom komentar media sosial.
Kebenaran yang “Erotis” dan Bahaya Tribalisme Digital
Persoalan lain yang luput dari sorotan adalah bagaimana masyarakat mengonsumsi kebencian secara erotis. Netizen menyukai konflik dan membutuhkan musuh untuk merasa “hidup”. Dalam konteks politik, kita sering terjebak dalam Tribalisme Digital. Jika korban bukan dari “kubu kita”, maka teror itu dianggap legal atau minimal layak ditertawakan.
Erich Fromm dalam bukunya The Anatomy of Human Destructiveness membedakan antara agresi defensif (untuk membela diri) dan agresi nekrofilus (hasrat untuk menghancurkan yang hidup). Masyarakat kita, tanpa sadar, sedang dipupuk menjadi massa yang nekrofilus. Fathin Robbani Sukmana mempertanyakan, “apabila Netizen senang melihat sesuatu yang mapan hancur, lalu kegirangan melihat orang yang vokal dibungkam, selama orang itu bukan bagian dari ‘kita’. Jika merasa demikian maka jawabannya adalah iya.”
Menjemput Kembali Nalar yang Tertukar
Lalu, bagaimana kita mengembangkan cara berpikir di tengah kepungan asap molotov dan aroma bangkai ayam ini? Solusinya bukan sekadar menambah kuota internet untuk scroll media sosial, melainkan melakukan kurasi mental. Kita butuh beralih dari pola pikir “reaksi instingtif” ke “aksi reflektif”.
Misalnya, apabila ada kejadian teror, nalar pertama kita harusnya adalah bahwa teror merupakan kejahatan terhadap manusia. Titik. Urusan apakah kita setuju pendapat politik korban atau sebaliknya, itu adalah urusan paragraf kemudian. Kita harus kembali terbiasa memisahkan antara subjek (manusia) dan objek (pendapat).
Sebagai penyimbang dari kegilaan massa ini, kita perlu merenung dari apa yang ditulis oleh Jose Ortega y Gasset, seorang filsuf dan esais asal Spanyol, dalam bukunya yang fenomenal, The Revolt of the Masses. Ia menulis, “Massa tidak pernah datang ke hadapan publik kecuali untuk menghancurkan. Mereka tidak lagi memiliki kemampuan untuk berdialog karena mereka merasa telah memiliki kebenaran yang mutlak tanpa perlu pembuktian.”
Apa yang ditulis Jose menampar tepat di pipi kita. Jika hanya merasa sakit ketika “orang kita” diteror namun bersorak saat “lawan” yang dikirimi molotov, sejatinya kita sudah bukan individu yang berpikir. Kita hanyalah bagian dari “Massa” yang digambarkan Ortega y Gasset, kumpulan orang yang merayakan kehancuran nalar demi kepuasan sesaat.
Jangan Jadi Penonton yang Jahat
Kita perlu melakukan Digital Stoicism, berdaulat atas emosi kita sendiri. Jangan biarkan algoritma atau kebencian partisan mendikte kapan kita harus empati dan kapan kita boleh mencaci.
Pada akhirnya, teror kepada DJ Donny dan Sherly Annavita adalah ujian bagi nalar publik. Apakah kita akan terus menjadi penonton bioskop yang sibuk mengomentari lighting dan plot hole dari sebuah teror nyata, atau kita kembali menjadi manusia yang tahu bahwa api di rumah tetangga—siapa pun dia—adalah ancaman bagi rumah kita juga?
Sebab, jika hari ini kita membiarkan api itu menyala hanya karena kita tidak suka pada wajah si empunya rumah, jangan kaget jika besok-lusa, saat api itu sampai ke daster atau sarung kita, orang-orang hanya akan menonton sambil sibuk mencari tahu: “Ini settingan atau bukan?”
