Tren

Pergerakan Tanah di Limapuluh Kota Berlanjut, Ahli Geologi: “Bukan Fenomena Baru”

KABUPATEN LIMAPULUHKOTA – Pergerakan tanah di lokasi fenomena tanah berlubang atau sinkhole di Nagari Situjua Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, masih terus terjadi hingga saat ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah mengambil langkah antisipasi dengan memasang garis polisi di sekitar area tersebut.

BPBD Pasang Garis Polisi, Warga Diimbau Waspada

Komandan Regu Tim Reaksi Cepat BPBD Limapuluh Kota, Alexandra, pada Selasa (6/1) menyatakan, “Hingga saat ini pergerakan tanah masih terus terjadi dan hal ini telah diantisipasi memasang garis polisi di sekitar sinkhole.” Pantauan Mureks di lokasi kejadian mengonfirmasi bahwa garis polisi telah terpasang sebagai upaya pencegahan.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Petugas BPBD telah melakukan pendataan awal terhadap sinkhole tersebut. Hasilnya, lubang itu memiliki panjang 10 meter, lebar tujuh meter, dengan kedalaman mencapai 5,7 meter. Pemasangan garis polisi (police line) ini ditujukan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, mengingat kekhawatiran polisi dan pemerintah setempat akan potensi lubang yang semakin membesar dan mengancam keselamatan warga.

Alexandra juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga dan mematuhi peraturan, terutama tidak melewati garis polisi di sekitar tanah yang berlubang. “Kami terus mengimbau masyarakat untuk menjaga dan mematuhi peraturan, terutama tidak melewati garis polisi di sekitar tanah yang berlubang,” tegasnya.

Penjelasan Geologis dan Rekomendasi Penanganan

Terpisah, ahli Geologi dan Mitigasi Bencana Geologi dan Vulkanologi, Ade Edward, menjelaskan bahwa fenomena sinkhole atau tanah tiba-tiba berlubang kerap terjadi di daerah batu kapur. Nagari Situjua Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, merupakan salah satu kawasan yang memiliki karakteristik geologis tersebut.

Ade memaparkan, Nagari Situjua adalah kawasan batu kapur yang tertutup oleh material erupsi Gunung Sago, sehingga keberadaan batu kapur tidak terlihat jelas di permukaan. Kawasan subur ini umumnya dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai lahan pertanian.

Sifat batuan kapur yang mudah larut jika terkena air hujan, kemudian memicu retakan, pada akhirnya dapat menciptakan lubang besar yang dikenal sebagai fenomena sinkhole. Untuk mencegah kecelakaan lebih lanjut, Ade Edward menyarankan pemerintah daerah atau masyarakat untuk segera menutup atau menimbun lubang tersebut dengan material tanah, pasir, batu, hingga dilakukan pengecoran.

“Jadi, ini bukan fenomena baru di Situjua. Masyarakat lokal kerap menyebutnya dengan istilah Sawah Luluih,” ujar Ade, menegaskan bahwa fenomena ini sudah dikenal luas oleh penduduk setempat.

Mureks