Nasional

Pendidikan Tradisional: Mengulas 7 Ciri Utama Sebelum Kemunculan Sekolah Modern

Sistem pendidikan tradisional sebelum era sekolah modern di Nusantara menyimpan nilai-nilai kearifan lokal yang telah mengakar kuat selama berabad-abad. Pola pembelajaran pada masa itu sangat berbeda dengan pendidikan formal yang dikenal saat ini, baik dari segi metode, kurikulum, maupun tujuan akhirnya. Meski tanpa struktur organisasi ketat, pendidikan tradisional berhasil membentuk generasi dengan karakter kuat, keterampilan hidup mumpuni, dan kedalaman spiritual.

Tim redaksi Mureks mencatat bahwa pemahaman akan ciri-ciri ini penting untuk melihat evolusi sistem pendidikan di Indonesia.

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

1. Berpusat pada Guru dan Otoritas

Salah satu ciri utama sistem pendidikan tradisional adalah sifatnya yang sangat berpusat pada guru. Figur seperti kiai, ustadz, pendeta, atau tetua adat dipandang sebagai otoritas tertinggi dalam transmisi ilmu. David L. Wagner dalam bukunya Pedagogy of Traditional Education menjelaskan bahwa murid cenderung berperan pasif dan menerima ilmu tanpa banyak ruang untuk dialog kritis. Pola ini umum dijumpai pada pendidikan berbasis agama dan adat di berbagai wilayah Asia, Afrika, dan Timur Tengah.

2. Metode Hafalan dan Pengulangan

Metode belajar dalam pendidikan tradisional sangat menekankan hafalan dan pengulangan materi. Menurut William Boyd dalam History of Education Quarterly, pendekatan ini bertujuan untuk memperkuat ingatan dan kedisiplinan intelektual. Hafalan juga dianggap sebagai bukti penguasaan ilmu sebelum munculnya metode analitis modern yang lebih kompleks.

3. Kurikulum Kaku dan Terbatas

Kurikulum pendidikan tradisional umumnya bersifat tetap dan terbatas. Materi pembelajaran bersumber dari kitab klasik, naskah kuno, atau pengetahuan turun-temurun yang diwariskan secara generasi. George F. Kneller dalam Education in Traditional Societies menguraikan bahwa fokus kurikulum sering berkisar pada ajaran agama, hukum adat, pertanian, atau keterampilan bertahan hidup. Ilmu pengetahuan umum yang luas belum menjadi prioritas utama dalam sistem ini.

4. Fokus pada Pembentukan Karakter dan Nilai

Tujuan utama pendidikan tradisional tidak semata-mata kecerdasan intelektual, melainkan pembentukan akhlak, adab, dan kepatuhan moral. Pendidikan pada masa itu berfungsi sebagai alat pembentukan manusia bermoral sesuai norma agama atau adat setempat. Hal ini sejalan dengan temuan Kristjánsson dalam Journal of Moral Education, yang menunjukkan bahwa sistem pendidikan tradisional lebih menekankan internalisasi nilai dibandingkan pencapaian akademik.

5. Pembelajaran Lisan dan Observasi Langsung

Proses transfer ilmu dalam sistem pendidikan tradisional berlangsung secara lisan dan melalui pengamatan langsung. Pengetahuan diturunkan dari mulut ke mulut atau melalui peniruan terhadap praktik guru. Jan Vansina dalam bukunya Oral Tradition as Education menjelaskan bahwa tradisi lisan menjadi sarana utama pendidikan di masyarakat yang belum mengenal sistem tulis secara luas. Observasi langsung juga dianggap efektif untuk pembelajaran keterampilan praktis.

6. Fasilitas dan Akses Pendidikan yang Terbatas

Pendidikan tradisional umumnya berlangsung di ruang-ruang sederhana seperti masjid, surau, rumah guru, atau balai adat. Fasilitas belajar sangat minim dan akses pendidikan terbatas, terutama bagi masyarakat pedesaan. Keterbatasan fasilitas ini mencerminkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat sebelum era industrialisasi yang membawa perubahan besar.

7. Interaksi Terbatas dan Kelas Berjumlah Besar

Jumlah murid dalam pendidikan tradisional sering kali besar, sehingga interaksi individual antara guru dan murid menjadi terbatas. Guru menyampaikan materi secara kolektif tanpa pendekatan personal yang mendalam. Kondisi ini berbeda jauh dengan sistem sekolah modern yang sering kali mengedepankan rasio guru-murid yang lebih kecil untuk interaksi yang lebih intensif.

Demikianlah tujuh ciri utama sistem pendidikan tradisional yang membentuk masyarakat Nusantara sebelum adopsi model sekolah modern. Pemahaman ini memberikan perspektif berharga tentang akar budaya dan nilai-nilai yang melandasi proses pembelajaran di masa lalu.

Mureks