Pemerintah Indonesia mengambil langkah serius dalam mengatasi krisis sampah nasional dengan mempercepat pembangunan proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Wamen PU) Diana Kusumastuti menegaskan bahwa PSEL bukan lagi sekadar inovasi, melainkan solusi darurat untuk memperpanjang usia pakai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kian kritis di seluruh Indonesia.
Menurut Diana, transisi menuju PSEL sangat krusial. Sistem ini tidak hanya memangkas volume sampah secara drastis, tetapi juga mengubah tumpukan residu menjadi sumber daya energi rendah karbon. Hal ini diharapkan dapat memutus ketergantungan pada perluasan lahan TPA yang semakin terbatas dan mahal.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
PSEL: Infrastruktur Kunci Pengurangan Beban TPA
Diana Kusumastuti menjelaskan bahwa PSEL merupakan infrastruktur vital dalam pengelolaan sampah. “PSEL merupakan infrastruktur yang diharapkan dapat mengurangi beban timbunan sampah di TPA sampah,” ujar Diana di Jakarta, Jumat (9/1).
Ia menambahkan, kondisi TPA yang saat ini kelebihan beban atau overload merupakan akumulasi dari belum optimalnya upaya pengurangan, pemilahan, dan pengolahan sampah di sumber, baik di tingkat komunal maupun kawasan. Akibatnya, sebagian besar sampah masih berakhir ditimbun di TPA.
Meskipun demikian, Diana menekankan bahwa TPA tetap diperlukan sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem pengelolaan sampah secara utuh. Sistem ini harus diawali dengan upaya pencegahan, pengurangan, dan pengolahan sampah, sehingga beban TPA dapat berkurang, kebutuhan lahan mengecil, dan pencemaran lingkungan dapat ditekan.
34 Titik PSEL Siap Dibangun, Atasi 1.000 Ton Sampah Harian
Senada dengan Wamen PU, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa pemerintah akan segera memulai pembangunan proyek Waste to Energy (PSEL) di 34 titik di seluruh Indonesia. Proyek ini merupakan bagian dari program hilirisasi pemerintah, dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) dijadwalkan antara Januari hingga Maret mendatang.
Prasetyo menjelaskan urgensi pembangunan PSEL ini didorong oleh volume timbunan sampah harian yang mencapai rata-rata 1.000 ton per hari di lokasi-lokasi tersebut. “Berkenaan dengan (proyek) Waste to Energy yang akan dibangun di 34 kabupaten/kota atau di 34 titik, yang hari ini sampahnya sudah mencapai 1.000 ton lebih per hari, ini memerlukan penanganan sesegera mungkin untuk diolah,” kata Prasetyo.
Pembangunan PSEL ini diharapkan tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga menekan risiko kesehatan yang timbul akibat penumpukan sampah. Dalam ringkasan Mureks, koordinasi intensif antara Kementerian PU, Danantara, kementerian/lembaga lain, serta pemerintah daerah terus dilakukan untuk memastikan dukungan infrastruktur yang optimal bagi kinerja teknik PSEL.






