Bulan Rajab sering disebut dalam percakapan sehari-hari umat Islam, namun tak banyak yang memahami makna linguistik dan arti sesungguhnya dari bulan mulia ini. Nama bukan sekadar label, melainkan sematan doa dan karakter yang mendalam.
Kata Rajab berasal dari fi’il tsulatsi mujarrod ra–ja–ba, yang memiliki tiga huruf dasar berarti hâbah wa ‘azhamah. Ini merujuk pada tindakan mengagungkan, menyiratkan adanya keagungan yang harus dimuliakan dalam bulan Rajab.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Rajab merupakan salah satu dari empat bulan haram atau asyhurul hurum, bersama Muharram, Dzulqa’dah, dan Dzulhijah. Bulan-bulan ini memiliki keistimewaan dan keutamaan tersendiri, seperti anjuran untuk beristighfar, berpuasa, dan bersedekah.
Makna At-Tarjib: Pengagungan dalam Bulan Rajab
Mengagungkan bulan Rajab dapat dilakukan dengan berbagai cara. Beberapa ulama memiliki pandangan berbeda mengenai puasa khusus di bulan ini. Imam Ibnu Hajar Al-Atsqolani, misalnya, menyatakan bahwa “tidak ada satu pun puasa yang dikhususkan untuk dilaksanakan di bulan Rajab.”
Meskipun demikian, tidak ada larangan bagi umat Islam yang ingin berpuasa di bulan Rajab, sekalipun terdapat hadits dhoif atau hadits yang terhitung lemah mengenai keutamaannya. Selain berpuasa, keutamaan lain yang dapat diamalkan di bulan agung ini adalah membaca Al-Qur’an.
Dengan membaca Al-Qur’an, umat Islam tidak hanya memperoleh pahala berlimpah, tetapi juga melatih kemampuan dan keinginan untuk membaca lebih banyak, serta membiasakan diri menjelang bulan Ramadhan. Ini dapat dianggap sebagai riyadhoh diri yang sederhana, namun konsistensi dalam mengamalkannya dapat membentuk kebiasaan baik.
Makna Al-Ashobb: Mengalirnya Rahmat dari Sang Kuasa
Jika at-tarjib adalah makna yang diraih oleh hamba, maka al-ashobb merupakan makna yang berasal dari sisi Sang Pencipta. Ketika Allah melimpahkan pahala berlipat ganda, itu berarti Allah menurunkan banyak rahmat bagi hamba-Nya. Kasih sayang Allah tak tertandingi oleh apa pun.
Mureks mencatat bahwa salah satu bulan haram ini dinamakan al-ashobb, yang berarti kucuran. Kata ini berasal dari shobba – yashubbu, yang berarti mengucurkan atau menyiram, dan dapat dipahami sebagai kucuran rahmat serta ampunan. Di bulan-bulan haram, seluruh manusia dianjurkan untuk memperbanyak kebaikan karena kelipatan pahala yang Allah limpahkan.
Dalam buku Keagungan Rajab dan Sya’ban karangan Abdul Manan bin Haji disebutkan, “Pahala amal kebaikan akan dilipatgandakan 70 kali lipat dalam bulan Rajab, 700 kali lipat dalam bulan Sya’ban, dan 1.000 kali lipat dalam bulan Ramadhan.”
Menanggapi hal tersebut, manusia dituntut untuk lebih produktif dan bijak dalam menempatkan niat pada setiap pekerjaan yang dilakukan. Sebagaimana diketahui, satu perbuatan yang didasari suatu niat, itulah yang akan didapatkan.
Makna Al-Ashomm: Terhindarnya Bulan Rajab dari Hal Negatif
Makna al-ashomm adalah tuli. “Alasan penamaan ini karena pada bulan Rajab tidak terdengar gencatan senjata untuk berperang yang dilakukan oleh bangsa Arab jahiliah pada masa dahulu,” jelas Fadilasari (2024).
Namun, pada masa Arab jahiliah, semangat berperang sangat tinggi, tanpa memandang bulan apa pun. Mereka bahkan menambah bulan ketiga belas setelah semua bulan dalam setahun terlewati. Padahal, menurut mayoritas ulama, peperangan dilarang di bulan-bulan haram.
“Namun larangan berperang pada bulan-bulan haram ini kemudian dinasakh (dihapus hukumnya) dengan perintah untuk memerangi kaum musyrik di mana pun dan kapan pun mereka berada, meskipun bertepatan dengan bulan haram,” ungkap Saputra (2024).
Oleh karena itu, sebagian ulama memperbolehkan berperang di bulan Rajab, salah satu bulan haram. Jika keutamaan bulan Rajab ini diterapkan di era modern, perbuatan baik dan menyenangkan hati sesama saudara lebih diutamakan, mengingat manfaatnya bagi diri sendiri dan orang lain.
Sebagai contoh, menghindari penyebaran hoaks di media sosial, pertengkaran di kolom komentar, atau kejadian negatif lainnya yang sering terjadi di media komunikasi saat ini. Peluang memanfaatkan kelipatan pahala di bulan Rajab sangat banyak, di antaranya menyebarkan konten dakwah tentang puasa Rajab, persiapan ibadah di bulan puasa guna meningkatkan ketakwaan, dan sebagainya.
Dengan memanfaatkan media terdekat seperti telepon genggam, umat Islam dapat mengagungkan bulan yang Allah pilih untuk dilipatgandakannya ganjaran amal saleh.
Rajab Mudhar
Dari Abu Bakar, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya waktu berputar sebagaimana yang ditetapkan Allah sejak hari Ia menciptakan langit-langit dan bumi, dalam satu tahun terdapat dua belas bulan dan empat di antaranya bulan haram. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang terletak di antara Jumada dan Sya’ban.” (H.R. Bukhori)
Bulan Rajab disebut dengan Mudhar karena letaknya di antara bulan Jumada dan Sya’ban. Namun, pendapat lain menyebutkan bahwa nama Mudhar diambil dari salah satu suku Arab yang sangat disiplin waktu dan mengagungkan bulan Rajab.
Hal ini mencerminkan bahwa agama Islam sangat menghargai waktu, terutama dalam menghargai bulan mulia yang penuh limpahan rahmat dan ganjaran dengan memperbanyak ibadah.
Dengan demikian, bulan Rajab merupakan upaya pertemuan antara hamba kepada Tuhannya dengan siraman rahmat-Nya yang tak terhitung. Melalui at-tarjib waktu dan penertiban diri, umat Islam dapat mempersiapkan diri memasuki bulan Ramadhan yang memiliki kelipatan ganjaran jauh lebih besar. Mari kita ‘rajabkan’ bulan ini agar Allah ‘mengashobbkan’ rahmat-Nya kepada kita.






