Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara tegas meminta direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk membersihkan pasar modal dari praktik saham gorengan. Permintaan ini disampaikan Purbaya di Gedung BEI, Jakarta, pada Jumat kemarin, 2 Januari 2026, menjelang berakhirnya masa jabatan direksi BEI periode 2022-2026.
Purbaya menekankan bahwa direksi BEI yang baru harus memiliki pemahaman mendalam tentang pasar, kemampuan untuk mengembangkan basis investor retail dan institusi, serta komitmen kuat untuk memberantas pelaku saham gorengan yang tidak bertanggung jawab.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
“Mereka harus bisa mengerti pasar dan bisa mengembangkan based dari investor retail dan institusi di sini, dan yang paling penting adalah mereka harus punya komitmen yang kuat untuk membersihkan pasar dari para penggoreng saham yang kurang bertanggung jawab,” kata Purbaya.
Menurut pantauan Mureks, jabatan direksi BEI saat ini akan berakhir tahun ini. Pengumuman calon direksi baru biasanya dilakukan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) setelah mendapat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sekitar pertengahan tahun.
Hingga saat ini, Purbaya masih enggan memberikan insentif kepada pasar modal. Sikap ini didasari oleh belum adanya penangkapan terhadap pelaku saham gorengan. Ia secara lugas menanyakan prestasi BEI dalam menindak para pelaku tersebut.
“Kalau mereka minta insentif, saya akan tanya apa prestasinya, berapa orang ditangkap,” ucap Purbaya.
Pemerintah, lanjut Purbaya, akan mempertimbangkan pemberian insentif jika BEI mampu memperbaiki persoalan saham gorengan. Namun, bentuk insentif tersebut belum bisa dijelaskan secara rinci karena masih memerlukan diskusi lebih lanjut.
“(Bentuk insentifnya) nanti didiskusikan karena mereka belum beres juga. Nanti kami lihat,” tutur Purbaya.
Sebelumnya, pada Kamis, 9 Oktober 2025, Purbaya juga telah mengungkapkan bahwa BEI sempat meminta insentif untuk ekosistem pasar modal kepada Kementerian Keuangan. Namun, permintaan tersebut tidak langsung dikabulkan karena masih maraknya saham gorengan.
Purbaya meminta BEI untuk lebih dulu memperbaiki perilaku investor di pasar modal. Menurutnya, saham-saham gorengan sangat merugikan investor kecil.
“Tadi Direktur Bursa juga minta insentif terus, yang belum tentu saya kasih. Jadi saya bilang, akan saya berikan insentif kalau Anda sudah merapikan perilaku investor di pasar modal. Artinya, yang goreng-gorengan dikendalikan sama dia lah,” ungkap Purbaya usai berdialog dengan otoritas pasar modal di BEI, Jakarta.






