Keuangan

Menkeu Purbaya Ungkap Defisit APBN Capai Rp 695,1 T, Nyaris Sentuh Batas 3 Persen PDB

JAKARTA – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir tahun 2025 mencatat defisit sebesar Rp 695,1 triliun. Angka ini setara dengan 2,92 persen dari produk domestik bruto (PDB), sedikit melampaui target awal namun tetap terkendali di bawah ambang batas 3 persen. Mureks mencatat bahwa kinerja ini menjadi sorotan utama di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas fiskal.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, defisit ini lebih tinggi dari target APBN 2025 yang sebesar 2,78 persen. Posisi defisit juga meningkat signifikan dibandingkan akhir November 2025 yang tercatat Rp 560,3 triliun atau 2,35 persen dari PDB.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

“Walau defisit membesar ke Rp 695,1 dan lebih tinggi tapi tetap terjaga defisit tidak di atas 3 persen meski memang naik dari rencana awal 2,78 persen,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa edisi Desember di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Realisasi Pendapatan dan Belanja Negara

Pendapatan negara sepanjang tahun 2025 mencapai Rp 2.756,3 triliun, merealisasikan 91,7 persen dari outlook yang diproyeksikan sebesar Rp 2.865,5 triliun. Capaian ini didukung oleh penerimaan perpajakan sebesar Rp 2.217,9 triliun dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 534,1 triliun.

Secara spesifik, penerimaan pajak terealisasi Rp 1.917,6 triliun atau 87,6 persen dari target Rp 2.076,9 triliun. Sementara itu, kepabeanan dan cukai berhasil mencapai Rp 300,3 triliun, atau 99,6 persen dari target yang ditetapkan.

Di sisi belanja, realisasi belanja negara hingga akhir Desember 2025 mencapai Rp 3.451,4 triliun. Angka ini setara 95,3 persen dari outlook belanja negara yang sebesar Rp 3.527,5 triliun.

Belanja pemerintah pusat tercatat Rp 2.602,3 triliun, sedangkan transfer ke daerah mencapai Rp 849 triliun. Pemerintah mengarahkan belanja ini pada program-program prioritas, dengan fokus utama menjaga daya beli masyarakat dan mendukung pemulihan ekonomi di berbagai sektor.

Purbaya juga menambahkan, keseimbangan primer masih mencatat surplus sebesar Rp 180,7 triliun, sebuah pencapaian yang positif mengingat outlook sebelumnya merancang defisit Rp 109,9 triliun. Defisit APBN secara keseluruhan terjadi karena realisasi pendapatan negara yang lebih rendah dibandingkan dengan total belanja negara.

Mureks