Posisi anak bungsu kerap diidentikkan dengan privilese, dimanja, dilindungi, dan dimudahkan segala jalannya. Namun, anggapan ini tidak selalu sejalan dengan realitas yang dialami banyak anak terakhir dalam sebuah keluarga. Sebaliknya, tak sedikit dari mereka yang justru merasa tertinggal, kesepian, bahkan terasing dari dinamika keluarga inti.
Fathiinah Nisa, seorang mahasiswa Pendidikan Matematika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, membagikan pengalamannya sebagai anak perempuan terakhir. Ia menyebut kalimat seperti, “Enak banget jadi anak terakhir, udah tenang. Kakak-kakaknya udah pada kerja kamu tinggal santai,” sebagai omong kosong belaka. Menurutnya, meski ada beberapa aspek di mana kalimat itu mungkin benar, secara keseluruhan, realitasnya jauh berbeda. Kakak-kakak yang sudah memiliki kehidupan sendiri, apalagi dengan jarak usia yang cukup jauh, membuat anak bungsu tetap harus menjalani hidup di dunianya sendiri.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Anak Bungsu Kerap Tidak Diikutsertakan dalam Komunikasi Keluarga
Salah satu akar masalah yang sering muncul adalah minimnya keterlibatan anak bungsu dalam diskusi keluarga. Mereka kerap dianggap terlalu kecil dan belum mengerti hal-hal dewasa. Fenomena ini selaras dengan pandangan Blair, L. (2011) dalam bukunya Birth Order: What Your Position in the Family Really Tells You About Your Character.
Blair menyatakan, “Seorang anak dengan jarak lima tahun atau lebih dari saudara terdekatnya sering kali secara psikologis berfungsi sebagai anak tunggal. Mereka menyaksikan ‘dunia dewasa’ saudara dan orang tua mereka dari kejauhan.”
Posisi sebagai pengamat dari kejauhan inilah yang membuat suasana rumah terasa sunyi, meskipun secara fisik tidak kosong. Ketika setiap anggota keluarga sibuk dengan urusan masing-masing, anak bungsu hanya bisa memperhatikan pintu kamar yang tertutup atau mendengar percakapan yang tidak melibatkannya.
Menurut pantauan Mureks, pola komunikasi instruktif ini seringkali menjadi pemicu utama. Komunikasi yang diterima anak bungsu di rumah seringkali hanya bersifat instruksi, seperti, “sudah makan?” atau “kerjakan tugasmu”. Jarang sekali ada komunikasi yang bersifat koneksi, seperti, “apa yang kamu pikirkan hari ini?” atau pertanyaan pendapat dalam diskusi keluarga. Hal ini berdampak pada perasaan anak bungsu yang tidak memiliki tempat dalam narasi keluarga.
Keinginan Memiliki Adik: Mencari Relasi yang Setara
Kondisi tersebut bahkan memicu keinginan anak bungsu untuk memiliki seorang adik. Keinginan ini bukan semata-mata untuk mencari teman bermain, melainkan untuk menemukan seseorang yang setara untuk diajak berbicara atau berdiskusi tanpa merasa “paling kecil” atau “tidak tahu apa-apa”. Relasi setara ini seringkali ditemukan pada seorang teman atau adik.
Alfred Adler, seorang psikolog yang meneliti urutan kelahiran, menjelaskan bahwa anak bungsu sering merasa kesepian karena tidak memiliki “pengikut” di dalam rumah. Dalam bukunya The Science of Living, Adler mengatakan, “Anak bungsu berada dalam posisi yang aneh; mereka tidak memiliki penerus. Dalam keluarga di mana setiap orang sibuk dengan perkembangan mereka sendiri, anak bungsu mungkin menderita karena kurangnya persahabatan, yang memicu keinginan mendalam untuk memiliki seseorang ‘di bawah’ mereka untuk dirawat.”
Keinginan untuk memiliki seseorang yang dapat dirawat juga tidak sepenuhnya tentang kuasa, tetapi lebih kepada kesempatan untuk terlibat. Ketika sejak awal anak bungsu lebih sering menjadi pendengar, pengamat, atau sekadar penerima instruksi, muncul dorongan untuk memiliki relasi di mana mereka dapat berperan, hadir, dan dianggap. Relasi tersebut menjadi bentuk pencarian atas keterlibatan emosional yang selama ini tidak mereka rasakan.
Dengan demikian, kesepian yang dirasakan anak bungsu bukan sekadar muncul tanpa sebab. Ini adalah hasil dari dinamika keluarga yang menempatkan anak bungsu di posisi terakhir, baik secara usia maupun secara komunikasi. Ketika suara anak bungsu jarang didengar, kesenjangan emosional pun tak terhindarkan.






