Pemerintah Australia secara resmi meminta warganya untuk segera meninggalkan Iran pada Rabu (7/1). Peringatan ini dikeluarkan menyusul gelombang demonstrasi berujung kekerasan yang telah melanda berbagai kota di Iran selama lebih dari sepekan, bahkan menelan korban jiwa.
Peringatan Keamanan Meningkat
“Jika Anda berada di Iran, Anda harus segera pergi,” demikian tegas pemerintah Australia, seperti dikutip dari AFP pada Kamis (8/1). Mereka menambahkan, “Ada protes kekerasan yang sedang berlangsung di seluruh negeri yang mungkin akan meningkat lebih lanjut tanpa pemberitahuan, situasi keamanannya tidak menentu.”
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Mureks mencatat bahwa aksi protes di Iran pertama kali pecah pada 28 Desember 2025. Saat itu, para pedagang di ibu kota Teheran memulai mogok kerja sebagai bentuk protes terhadap tingginya harga kebutuhan pokok dan stagnasi ekonomi. Seiring waktu, demonstrasi ini meluas ke berbagai kota dan berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas.
Tekanan Ekonomi dan Sanksi Internasional
Perekonomian Iran memang berada di bawah tekanan berat akibat sanksi internasional yang ketat. Data menunjukkan, nilai tukar mata uang rial telah anjlok lebih dari sepertiga terhadap dolar AS sepanjang tahun lalu, sementara tingkat inflasi menembus dua digit, memperparah beban hidup masyarakat.
Sebagai respons, pemerintah Iran pada Minggu (4/1) mengumumkan pemberian tunjangan bulanan bagi seluruh warga negara. Bantuan ini setara dengan sekitar 3,5 persen dari rata-rata upah bulanan, sebagai upaya meringankan beban ekonomi.
Sementara itu, media lokal Iran menunjukkan pandangan yang beragam. Harian reformis Arman Melli pada Senin (5/1) menulis bahwa otoritas Iran telah “mendengar suara para demonstran”. Berbeda dengan itu, surat kabar konservatif Javan dan Kayhan justru menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik dukungan finansial terhadap para perusuh, mengindikasikan adanya campur tangan asing.
Referensi penulisan: kumparan.com






