Ketergantungan masyarakat terhadap transportasi kereta api, khususnya KRL Commuter Line, telah melahirkan geliat ekonomi baru di sekitar stasiun. Bisnis penitipan sepeda motor informal kini menjamur, menawarkan solusi parkir yang lebih terjangkau bagi para komuter yang beraktivitas setiap hari.
Fenomena ini terlihat jelas di berbagai titik, seperti di sekitar Stasiun Bekasi. Setiap pagi hingga sore hari, ratusan sepeda motor berjejer rapi di Jalan H. Djuanda dan sisi samping stasiun di Jalan Perjuangan. Kawasan yang dulunya didominasi rumah tinggal dan lahan kosong, kini bertransformasi menjadi kantong-kantong usaha penitipan motor.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Tarif Parkir Resmi yang Memberatkan
Salah satu pemicu utama menjamurnya parkir informal adalah tarif parkir resmi di dalam area stasiun yang dinilai memberatkan. Sistem perhitungan per jam membuat biaya parkir bisa melonjak tinggi, terutama bagi pekerja yang meninggalkan kendaraannya sejak pagi hingga petang.
Di area parkir resmi stasiun, tarif satu jam pertama dipatok Rp 2.000 dan bertambah Rp 1.000 untuk setiap jam berikutnya. Jika dihitung selama jam kerja, biaya parkir bisa mencapai angka yang cukup tinggi. Kondisi ini mendorong banyak pengguna kereta api untuk mencari alternatif parkir di luar stasiun yang menawarkan tarif harian lebih terjangkau.
“Kalau parkir di luar stasiun, dulu Rp 5.000, sekarang di tempat kami cukup bayar Rp 6.000 seharian. Walaupun sekarang ada yang mulai naik lagi,” ujar Awan, salah satu petugas parkir motor di kawasan sekitar Stasiun Bekasi, pada Rabu (7/1/2026).
Solusi Ekonomis dan Kedekatan Emosional
Parkir di luar stasiun tetap dianggap lebih ekonomis dibandingkan parkir resmi. Selain faktor harga, kedekatan emosional antara pengelola parkir dan pelanggan juga menjadi daya tarik tersendiri. Hal ini diakui oleh Dimas, pengguna jasa parkir motor asal Tambun.
Setiap hari, Dimas menitipkan motornya di salah satu lahan parkir dekat Stasiun Bekasi sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta. “Kalau dibandingkan, jelas lebih murah di luar. Selisihnya jauh kalau parkir di dalam stasiun,” kata Dimas.
Menurut Dimas, meskipun tidak ada sistem pembayaran bulanan, hubungan langganan tetap terjalin secara alami. Pembayaran dilakukan harian, namun rasa aman muncul karena sudah saling mengenal dengan pengelola parkir.
Kisah Perjuangan Sultan di Bojonggede
Tidak hanya di Bekasi, geliat bisnis parkir motor juga terlihat di Stasiun Bojonggede, Bogor. Sultan (36 tahun) adalah salah satu pelaku usaha yang memilih bisnis baru dengan membuka parkiran motor bernama Penitipan Motor H5 sejak 1,5 tahun lalu. Sebelumnya, Sultan bekerja sebagai kepala gudang di sebuah perusahaan air minum di Parung.
“Kenapa saya buka parkiran, karena tahun lalu ada penutupan jalan, dan ide saya di situ muncul, tidak mau kehilangan kesempatan,” katanya saat ditemui tim redaksi Mureks pada Kamis (8/1/2026).
Usaha mandiri Sultan tidak selalu berjalan mulus. Ia bercerita, pada awal membuka parkiran tersebut, ia tidak mendapatkan pelanggan selama tiga bulan. Namun, Sultan tidak menyerah. Ia memutar otak agar usahanya ramai, mulai dari menambah fasilitas hingga mengajak teman-temannya untuk parkir.
Seiring berjalannya waktu, parkiran Sultan mulai diminati pelanggan. Ia kemudian berinovasi dengan menyediakan tiket parkir cetak serta pembayaran melalui QRIS. Harga parkir di tempat H5 ini terbilang terjangkau: Rp 5.000 untuk motor kecil dan Rp 6.000 untuk motor besar. Sebagai perbandingan, di dalam stasiun, tarif parkirnya adalah Rp 2.000 di satu jam pertama dengan penambahan Rp 1.000 di tiap jamnya, dengan maksimal Rp 10.000.
Sultan berupaya keras membuat pelanggan merasa nyaman dan aman saat menitipkan kendaraannya di parkiran miliknya.
Transformasi Lahan di Cikarang
Pemandangan serupa juga terjadi di luar area resmi Stasiun Cikarang, Jalan Yos Sudarso, Karang Asih. Ruas jalan yang dahulu dipenuhi ruko dan lapak pedagang kini berubah wajah menjadi hamparan parkiran informal. Motor-motor berjejer rapat, sebagian besar tanpa atap pelindung, kontras dengan kawasan Stasiun Bekasi yang mayoritas parkirannya sudah tertata dan beratap.
Perubahan fungsi lahan ini meninggalkan jejak yang tak kecil. Sejumlah ruko tampak tertutup rapat, catnya memudar, etalase kosong tanpa aktivitas. Bangunan yang semula disewakan untuk berdagang kini kehilangan peminat, tersisih oleh kebutuhan praktis para pengguna KRL yang mengutamakan kecepatan.
“Parkir di luar lebih cepat,” ujar Wati, salah satu pengguna jasa parkir, singkat, menggambarkan prioritas utama para komuter.






