Nasional

Menguak Kisah Filantropi Muhammadiyah di Batur Dieng: Menembus Dinginnya Geografi Ekstrem dengan Solidaritas

BANJARNEGARA – Di tengah dinginnya suhu yang kerap menyentuh 0°C dan fenomena embun beku, sebuah gerakan filantropi masif justru tumbuh subur di Dataran Tinggi Dieng. Desa Batur, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, membuktikan bahwa kondisi geografis ekstrem bukanlah penghalang untuk membangun sistem kepedulian sosial yang berkelanjutan.

Solidaritas di Ketinggian Ekstrem

Kecamatan Batur, yang terletak di ketinggian 1.663 hingga 2.093 meter di atas permukaan laut, menghadapi tantangan alam yang unik. Suhu siang hari berkisar 14-20°C, namun pada malam hari bisa anjlok hingga 9-12°C. Fenomena “bun upas” atau embun beku menjadi pemandangan lumrah saat musim kemarau.

Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!

Kondisi ini seharusnya menyulitkan mobilisasi sosial. Namun, Mureks mencatat bahwa justru di sinilah salah satu fenomena filantropi paling mengesankan di Indonesia terjadi. Pada tahun 2025, sebanyak 344 hewan kurban terkumpul di satu dusun, meningkat signifikan dari 327 ekor pada tahun 2023. Secara keseluruhan, Kepala Desa Batur, Ahmad Fauzi, mencatat total 605 hewan kurban di seluruh desa pada tahun 2023, terdiri dari 189 sapi dan 416 kambing.

Inovasi Tabungan Kurban untuk Petani

Rahasia di balik “banjir daging kurban” ini adalah sistem tabungan kurban yang inovatif. Ahmad Hidayat, Ketua Panitia Kurban Majelis Pendidikan Sosial (MPS) Muhammadiyah Batur, menjelaskan bahwa masyarakat menabung secara teratur. “Ada yang setiap hari dengan nominal Rp 10.000, ada pula yang setiap lima hari di pasar Pahing,” ujarnya.

Sistem ini dinilai brilian karena sangat menyesuaikan dengan karakteristik ekonomi lokal. Mayoritas warga Batur adalah petani sayuran dataran tinggi dengan penghasilan yang fluktuatif. Dengan menabung selama sepuluh bulan, beban berkurban menjadi lebih ringan dan terjangkau bagi mereka.

“Ini bukan sekadar program kurban, tapi juga edukasi literasi keuangan bagi masyarakat pedesaan,” tegas Ahmad Hidayat.

Jaringan Distribusi Lintas Wilayah

Dampak filantropi Batur tidak hanya dirasakan di wilayahnya sendiri. Daging kurban didistribusikan hingga ke Magelang, Temanggung, Wonosobo, Batang, dan Cilacap melalui Lazismu serta berbagai yayasan. Bahkan, wisatawan yang kebetulan menginap di kampung tersebut pun turut mendapat jatah daging kurban.

“Pembagian dilakukan per orang, bukan per kepala keluarga. Ini memastikan distribusi yang lebih merata,” jelas Ahmad Fauzi.

Akar Sejarah dan Komitmen Lintas Generasi

Fondasi gerakan filantropi ini telah dibangun sejak hampir seabad lalu. Sekitar tahun 1929, Nyai Walidah, istri pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, melakukan perjalanan ekstrem dari Yogyakarta ke Batur. Muhammad Faizin, sesepuh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Batur, mengenang momen tersebut.

“Di Kejajar itu lalu dijemput dengan dua kuda, kuda milik Wak Dahlan berwarna merah sandel, dengan satu kuda lagi berwarna hitam sabu,” kenang Faizin, menggambarkan komitmen luar biasa terhadap dakwah yang membutuhkan perjalanan sekitar lima jam dengan menunggang kuda.

Jejak historis ini semakin kuat dengan kunjungan Jenderal Sudirman ke Batur pada tahun 1936 untuk mengikuti kemah Kepanduan Hizbul Wathan, menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.

Infrastruktur Sosial yang Terintegrasi

Keberhasilan gerakan filantropi Batur didukung oleh infrastruktur sosial yang solid. Lembaga pendidikan seperti SD Muhammadiyah Batur, MTS Muhammadiyah Batur, dan kompleks Madrasah Diniyah Muhammadiyah (MDM) Batur tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai pusat mobilisasi sosial.

Kompleks MDM Batur secara rutin menjadi lokasi pengumpulan dan pembagian daging kurban, pengajian, serta berbagai kegiatan sosial lainnya. Pemuda Muhammadiyah Batur juga aktif dalam sosialisasi kesadaran hukum dan bahaya narkoba bersama pemerintah desa. Sinergi ini bahkan menarik perhatian Universitas Muhammadiyah Purwokerto untuk melakukan kunjungan, membuktikan bahwa model Batur layak dipelajari dan direplikasi.

Pelajaran Berharga dari Batur

Model filantropi Batur menawarkan beberapa pelajaran berharga untuk pembangunan sistem kepedulian sosial yang berkelanjutan di Indonesia:

  • Adaptasi Kondisi Lokal: Sistem tabungan yang fleksibel sesuai kemampuan ekonomi masyarakat, terutama petani dengan penghasilan fluktuatif.
  • Infrastruktur Sosial Terintegrasi: Lembaga pendidikan dan keagamaan yang berfungsi ganda sebagai pusat mobilisasi sosial.
  • Komitmen Lintas Generasi: Dari jejak Nyai Walidah di tahun 1929 hingga generasi muda saat ini yang aktif berbagi sejarah.
  • Jaringan Distribusi Luas: Tidak hanya untuk warga lokal, tetapi juga menjangkau kabupaten lain, memastikan pemerataan.

Di era digital, fenomena “banjir daging kurban” Batur yang viral di media sosial bukan sekadar prestasi numerik. Ini adalah bukti bahwa gerakan sosial yang konsisten, menyentuh kebutuhan masyarakat, dan berakar pada nilai-nilai keagamaan dapat menghasilkan dampak luar biasa, bahkan di tengah tantangan geografis yang ekstrem.

Mbah Faizin, yang rajin berbagi sejarah kepada generasi muda, merangkumnya dengan sederhana: “Dakwah yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat akan selalu berbuah manis, apapun kondisinya.”

Mureks