Nasional

Menguak Jejak Delta Force AS dan SATGULTOR Indonesia: Dari Operasi Rahasia hingga Penumpasan Terorisme

Dunia dikejutkan oleh laporan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Delta Force, pasukan khusus utama Angkatan Darat Amerika Serikat. Insiden yang dilaporkan terjadi pada Sabtu dini hari (3/1) di Caracas, ibu kota Venezuela, tersebut memicu ledakan hingga setidaknya tujuh kali, serta penangkapan Maduro dan istrinya oleh pasukan AS.

Peristiwa ini kembali menyoroti keberadaan pasukan elite rahasia seperti Delta Force. Pasukan khusus Amerika ini didirikan oleh Kolonel Charles Alvin Beckwith, atau yang dikenal sebagai Charlie Beckwith, pada 19 November 1977. Pembentukan Delta Force terinspirasi dari pengalamannya bertugas bersama British Special Air Service (SAS), pasukan khusus Inggris yang fokus pada penanggulangan terorisme dan penyelamatan sandera.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Identitas anggota Delta Force sangat dirahasiakan, mirip dengan Central Intelligence Agency (CIA). Sebagai unit elite utama, proses rekrutmennya dikenal sangat sulit dan teliti. Kandidat ideal seringkali berasal dari unit elite US Army Rangers atau Green Berets. Seleksi yang ketat dan brutal membuat hanya segelintir dari ribuan pendaftar yang berhasil lulus. Proses ini sepenuhnya rahasia dan hanya dapat diakses melalui jalur militer khusus, tidak terbuka untuk masyarakat umum.

Indonesia Punya SATGULTOR: Detasemen Khusus 81

Lantas, apakah Indonesia memiliki pasukan elite yang setara dengan Delta Force? Tentu saja. Indonesia memiliki Satuan Penanggulangan Teror (SATGULTOR) yang dikenal sebagai Detasemen Khusus 81.

Pembentukan SATGULTOR tidak lepas dari pengalaman pahit pembajakan pesawat DC-9 Garuda Woyla di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand, pada 28 Maret 1981. Peristiwa tragis ini dilakukan oleh kelompok ekstremis Komando Jihad.

Kopassus, yang kala itu masih bernama Kopassandha, ditunjuk oleh Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf untuk memimpin operasi pembebasan sandera. Letnan Kolonel Inf. Sintong Panjaitan dipercaya sebagai pimpinan operasi, dengan memilih personel terbaik dari Kopassandha, mengingat Sat 81/Gultor belum terbentuk saat itu.

Operasi pembebasan sandera tersebut berhasil dengan sukses, secara dramatis melambungkan reputasi Kopassus di mata dunia internasional. Mureks mencatat bahwa keberhasilan ini menjadi titik balik penting bagi militer Indonesia dalam menghadapi ancaman terorisme.

Berangkat dari pengalaman ketidaksiapan menghadapi terorisme di era tersebut, Kepala Badan Intelijen Strategis ABRI, Letnan Jenderal TNI L.B. Moerdani, menginisiasi pembentukan kesatuan baru setingkat Detasemen di lingkungan Kopassandha.

Pada 30 Juni 1982, Satuan Anti Teror Detasemen 81 (Den-81) Kopassandha resmi dibentuk melalui surat keputusan nomor: SKEP/4/VI/1982. Ini menjadi Satuan Anti Teror pertama di Indonesia. Mayor Inf. Luhut Binsar Panjaitan ditunjuk sebagai komandan pertama, dengan Kapten Inf. Prabowo Subianto sebagai wakil komandan.

Diharapkan, Pasukan Elite Detasemen 81 Republik Indonesia terus meningkatkan kemampuan dan peralatan canggih, serta tetap berlatih dengan keras, gigih, dan disiplin. Hal ini penting agar mereka selalu siaga menjaga keutuhan dan keamanan negara Indonesia tercinta.

Mureks