Perasaan tertinggal dalam jenjang karier seringkali muncul tanpa diundang, terutama saat berselancar di media sosial. Cukup satu guliran layar, dan kita dihadapkan pada rentetan pencapaian orang lain: promosi jabatan, kepindahan ke perusahaan impian, atau pameran kesuksesan yang tampak sempurna.
Momen-momen ini, yang seharusnya menjadi hiburan atau inspirasi, justru kerap memicu pertanyaan mengganggu di benak: “Mengapa mereka sudah sejauh itu, sementara aku masih di sini?” Perasaan tertinggal ini seringkali lebih kuat dari logika yang menenangkan, membuat dada terasa sesak dan pikiran dipenuhi keraguan.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Fenomena perbandingan ini memang sulit dihindari di era digital. Tanpa disadari, kita cenderung membandingkan potongan-potongan ‘highlight’ hidup orang lain dengan keseluruhan perjalanan hidup kita sendiri. Kita hanya melihat hasil akhir, tanpa memahami proses, keraguan, kelelahan, atau bahkan kegagalan yang mungkin menyertainya. Sebuah perbandingan yang tidak adil, namun terasa begitu nyata.
Dalam keheningan, perbandingan ini perlahan menggeser cara pandang kita terhadap diri sendiri. Karier yang tadinya terasa ‘cukup’ mendadak terasa lambat. Langkah yang sebelumnya masuk akal kini terlihat kecil, memicu kita untuk mempertanyakan kembali keputusan-keputusan yang telah diambil dengan keyakinan penuh.
Konteks Berbeda, Perjalanan Tak Sama
Padahal, kecepatan karier orang lain seringkali terlihat lebih cepat karena banyak faktor yang tidak kita ketahui. Ada konteks hidup yang berbeda, fase kehidupan yang tidak sama, dan titik awal yang bervariasi. Beberapa mungkin bisa fokus penuh karena belum memiliki tanggungan, sementara yang lain telah mendapatkan akses, jaringan, atau dukungan sejak awal. Ada pula yang memang sedang berada di fase akselerasi setelah bertahun-tahun membangun fondasi.
Mureks mencatat, kecepatan tidak selalu berarti kemajuan yang substansial. Terkadang, cepat bisa berarti terburu-buru atau sekadar mengikuti arus tanpa arah yang jelas. Di tengah dunia yang terlalu sering memuja kecepatan, kita sering lupa bahwa bertahan dan bertumbuh secara konsisten juga merupakan bentuk kemajuan, meskipun tidak selalu terlihat mencolok.
Masalah utamanya seringkali bukan pada lambatnya karier kita, melainkan karena kita lupa menanyakan pertanyaan fundamental: “Aku sedang membangun apa?” Tanpa arah yang jelas, kecepatan justru terasa kosong. Kita bisa bergerak cepat, pindah cepat, atau naik jabatan cepat, namun tetap merasa hampa karena yang lelah bukan tubuh, melainkan makna. Kita sibuk mengejar posisi, tetapi lupa memahami tujuan.
Dampak Psikologis Perbandingan Sosial
Riset yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Clinical Psychology menunjukkan bahwa perbandingan sosial yang intens, terutama melalui media sosial, memiliki korelasi erat dengan peningkatan perasaan tidak cukup, kecemasan, dan penurunan kepuasan hidup. Ini mengindikasikan bahwa rasa tertinggal yang kita alami mungkin bukan semata-mata karena masalah karier, melainkan karena kita terus-menerus menilai diri di cermin yang keliru.
Namun, kita jarang berhenti untuk bertanya: apakah aku benar-benar tertinggal, atau hanya terlalu sering melihat ke samping?
Mendefinisikan Ulang Makna Karier
Bayangkan jika kita mendefinisikan ulang karier. Bukan sebagai lomba lari yang harus dimenangkan, melainkan sebagai sebuah perjalanan pribadi. Sebuah karier yang tumbuh sesuai kapasitas diri, yang tidak menguras mental hanya demi terlihat ‘maju’, dan yang bergerak dengan kesadaran penuh kapan harus melangkah atau melambat.
Dalam perjalanan karier semacam itu, kita mungkin tidak selalu merasa menang, tetapi kita memahami alasan di balik setiap langkah. Kita mungkin tidak selalu percaya diri, tetapi kita mengerti apa yang sedang kita bangun. Kita mungkin tidak selalu sampai duluan, tetapi kita tidak kehilangan diri sendiri di tengah jalan.
Coba refleksikan sejenak: jika hari ini Anda dipaksa mempercepat karier, apa yang akan Anda korbankan? Energi? Nilai-nilai pribadi? Atau bahkan kesehatan mental?
Karier yang sehat memungkinkan kita untuk berkata, “Aku mungkin belum sampai, tapi aku tahu ke mana aku menuju.” Kalimat sederhana ini menenangkan karena ia memberi arah, dan arah itulah yang memberikan daya tahan. Seringkali, yang kita butuhkan bukanlah validasi bahwa kita sudah sejauh orang lain, melainkan keyakinan bahwa langkah kita hari ini masih relevan dengan tujuan hidup kita sendiri.
Tanpa keyakinan itu, seberapa cepat pun kita berlari, rasa tertinggal akan selalu mengejar. Maka, saat merasa tertinggal, jangan buru-buru menambah kecepatan atau menyalahkan diri sendiri. Berhenti sejenak, perjelas arah, dan tanyakan dengan jujur: fase apa yang sedang aku jalani sekarang? Apakah ini fase belajar, menguatkan fondasi, atau mencoba ulang?
Tidak semua fase perjalanan karier memang terlihat mengkilap. Namun, justru fase-fase inilah yang seringkali menentukan apakah perjalanan Anda akan panjang dan bermakna, atau justru berhenti di tengah jalan. Karier orang lain mungkin terlihat lebih cepat, tetapi karier Anda tidak harus sama untuk menjadi bermakna. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang sampai duluan, melainkan siapa yang masih utuh saat sampai pada tujuannya.
Referensi penulisan: m.kumparan.com






