Nasional

Menyelami Hakikat Cinta Abadi Maulana Rumi: Sebuah Perjalanan Spiritual di Kota Konya

Cinta, sebuah gejolak jiwa yang kerap melampaui batas kata dan suara, menyimpan dentuman makna yang lebih kencang. Dalam perjalanan spiritual, manusia seringkali menemukan hikmah yang menerangi jalan hidup menuju kesempurnaan. Lantas, apa sebenarnya hakikat makna cinta sejati?

Sosok legendaris yang menjadi kiblat dalam memahami hakikat cinta adalah Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri. Pujangga sufi ini telah melalang buana dengan syair-syair indahnya, membawa angin segar bagi peradaban manusia.

Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Melalui untaian syairnya, Rumi mengantarkan jutaan manusia mengenal hakikat Ilahi, ibarat oase di tengah gurun yang menawarkan air segar. Membaca karya-karya Rumi berarti menyelami “Cinta”, memahami maknanya, dan menapaki jalan spiritual.

Namun, tak jarang makna cinta yang dibawa Rumi disalahpahami, dianggap jauh dari napas Islami atau hakikat cinta sesungguhnya. Padahal, pesan-pesan cintanya justru menyiratkan kerinduan mendalam kepada Yang Ilahi.

Kota Konya, tempat peristirahatan Rumi, menjadi saksi bisu. Setiap sudut kota, hembusan angin, bahkan debu jalanan seolah bersaksi bahwa Maulana Rumi masih bersemi, menegaskan bahwa cinta sejati telah mencapai puncaknya pada Sang Ilahi, cinta yang tak pernah mendua atau terbagi.

Menurut Annemarie Schimmel, setiap langkah ke kota Konya adalah “langkah perjalanan spiritual”. Ia juga menuliskan, “setiap batu dan pohon tampak menafsirkan pesan-pesan Rumi ke dalam bahasanya sendiri, bagi orang yang mempunyai telinga untuk mendengar dan mata untuk melihat.”

Membicarakan Rumi tanpa menyertakan kata cinta adalah kemustahilan, keduanya selalu melekat. Bagi Rumi, cinta adalah anugerah dari Tuhan yang menggerakkan, membahagiakan, dan tidak mengharapkan balasan. Konsep cinta ini menjadi petunjuk bagi manusia untuk menapaki jalan spiritual menuju Ilahi.

Guna mencapai cinta ilahi, Rumi mengajarkan bahwa cinta tidak mengharapkan balasan dan harus menjauhkan rasa memiliki atau ‘ke-aku-an’ pada diri. Menurut Mureks, Rumi menjelaskan bahwa kata “Aku” yang diucapkan seorang sufi dalam keadaan fana’ tidak diisyaratkan untuk dirinya sendiri. Ini karena terdapat perbedaan mendasar antara kata “Aku” yang diucapkan untuk menekankan pribadi kemanusiaan dan kekaguman padanya, dengan kata “Aku” yang diucapkan untuk mengisyaratkan Dzat Ilahi. Yang pertama merupakan laknat, sedangkan yang kedua merupakan rahmat.

Cinta sejati, menurut Rumi, bersifat kekal dan harus diberikan kepada yang kekal pula. Ia tidak pantas disematkan pada hal-hal yang ditakdirkan fana’ atau binasa. Cinta mengalir dalam diri manusia layaknya darah, dan jika diletakkan pada tempatnya yang sesuai, ia akan bersinar laksana matahari yang tak kunjung tenggelam, atau bagai bunga indah yang tak pernah layu.

Puncak tertinggi cinta, ia gambarkan, adalah saat Tuhan berfirman, “Telah Kuciptakan semua untukmu.” Lalu manusia membalasnya dengan, “Telah kutinggalkan semua untuk-Mu.” Penggalan puisi ini menunjukkan betapa magisnya karya Rumi bagi mereka yang memahaminya.

Oleh karena itu, Rumi mengajak untuk mencari cinta suci yang abadi, yang mampu memusnahkan segala sesuatu dan menyegarkan dahaga spiritual. Kandungan cinta seperti inilah, menurut Rumi, yang pernah dirasakan oleh para nabi terdahulu.

Rumi juga meyakini bahwa cinta adalah bahasa universal, melampaui agama, identitas, dan segala perbedaan. “Di luar benar dan salah,” katanya, “ada sebuah taman di sanalah aku akan menunggumu.” Hingga hari ini, kata-kata Rumi tetap hidup, menyentuh jiwa-jiwa yang lelah, mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar tersesat, melainkan sedang belajar mencintai dengan lebih dalam.

Dengan demikian, pantauan Mureks menunjukkan bahwa “Cinta tak pernah mati di kota Rumi”, terus menginspirasi dan membimbing jiwa-jiwa yang mencari makna sejati.

Mureks