Gelombang budaya Korea atau hallyu yang begitu kuat di kancah internasional kini menemukan arus baliknya. Sebuah fenomena menarik muncul di tengah dinamika ini: penerjemahan lagu-lagu populer Indonesia, termasuk lagu Jawa, ke dalam bahasa Korea, serta sebaliknya. Aktivitas ini menjadi semacam “jembatan budaya” yang menghubungkan dua negara dengan cara yang unik di era digital.
Ketika “Sewu Kuto” Berbahasa Korea
Salah satu contoh paling mencolok adalah lagu maestro campursari Didi Kempot, “Sewu Kuto”, yang dirilis pertama kali pada tahun 2001. Komposisi melodi, ritme, harmoni, tempo, dan dinamikanya terasa akrab, namun liriknya kini hadir dalam balutan bahasa Korea. Melalui bantuan terjemahan, empat larik awal lagu tersebut berbunyi:
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
“Cheon gaeui dosireul jinagausseo. Cheon gaeui maeumeul muleo bwasseo. Hajiman nugudo moreugesseo. Naega eodi te onasseon eunji,”
Versi terjemahan bahasa Indonesia dari lirik tersebut adalah, “Aku telah melewati seribu kota. Aku telah bertanya pada seribu hati. Tapi tidak ada yang tahu. Ke mana engkau pergi.” Makna ini sangat dekat dengan lirik asli bahasa Jawa, “Sewu kuto uwis tak liwati. Sewu ati uwis tak takoni. Nanging kabeh pada rangerteni. Lungamu neng endi.”
Selain versi Korea, lagu “Sewu Kuto” juga memiliki versi bahasa Inggris dengan judul “A Thousand Cities” dan versi bahasa Belanda, “Duizend Steden”. Versi Belanda ini kemungkinan dipicu oleh ketenaran Didi Kempot di Suriname dan kedekatan sejarah dengan warga Suriname keturunan Jawa.
Fenomena serupa juga terjadi pada lagu “Titip Rindu buat Ayah” karya Ebiet G. Ade. Penyanyi cover Jinwoo melantunkan lirik bahasa Korea yang maknanya serupa dengan aslinya:
“Geu nunen ajik nameun gieok. Sumaneun naideuri saegyojyeonne hima wie. Jicheo boineun geu eolgul.”
Lirik ini merujuk pada versi asli bahasa Indonesia, “Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa. Benturan dan hempasan terpahat di keningmu. Kau nampak tua dan letih.” Mureks mencatat bahwa meskipun alih bahasa tidak selalu presisi, esensi emosional lagu tetap terjaga.
Pionir Kreator Konten dan Idol K-Pop
Tren penerjemahan lagu Indonesia ke bahasa Korea mulai merebak sejak medio 2010-an, khususnya pada kisaran tahun 2016-2017, diinisiasi oleh para pionir di media sosial. Salah satunya adalah Ye Eun Lee, seorang YouTuber dan kreator konten asal Korea Selatan yang memiliki ikatan emosional kuat dengan Indonesia. Ia pernah tinggal di Indonesia sejak lahir hingga usia 19 tahun sebelum pindah ke Korea Selatan untuk kuliah.
Ye Eun Lee dikenal sering meng-cover lagu-lagu berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Korea. Contohnya, lagu “Kali Kedua” dari Raisa yang ia bawakan dengan judul “Du Beonjjae”. Suara syahdunya berhasil “menempel” nyaman di telinga pendengar, bahkan terdengar seperti soundtrack drama Korea. Selain itu, ia juga meng-cover lagu “Untitled” (Maliq & D’essentials), “Beautiful” (Cherrybelle), “Kau Adalah” (Isyana Sarasvati), dan “Kesempurnaan Cinta” (Rizky Febian).
Kreator konten lain yang turut melambungkan tren ini adalah Kim Ji Hoon. Ia menjadi viral pada tahun 2017 berkat konsistensinya mengalihbahasakan lirik lagu-lagu populer Indonesia ke dalam hangukeo (bahasa Korea) melalui kanal YouTube-nya, Hoon Sound. Lagu-lagu yang sukses ia garap antara lain “Asal Kau Bahagia” (Armada), “Dekat di Hati” (RAN), dan “Kalau Bosan” (Lyodra Margareta Ginting).
Tak hanya kreator konten, idol K-Pop juga menunjukkan apresiasi terhadap musik Indonesia. Pada tahun 2012, Siwon dari boy band Super Junior meng-cover lagu “Sempurna” milik Andra and The Backbone saat konser Super Show 4 di Jakarta. Penampilannya yang fasih dan tanpa kekakuan pelafalan menjadi momen ikonik. Siwon menyatakan bahwa “Sempurna” merupakan salah satu lagu Indonesia favoritnya. Momen ini terulang pada 7 April 2021 dalam acara virtual “Siwon’s Spoonful of Happiness” yang diselenggarakan sponsor mi instan terkemuka di Indonesia.
Idol K-Pop lain yang juga sering meng-cover lagu Indonesia adalah Choi Jun Seong, vokalis utama GHOST9. Beberapa lagu yang pernah ia nyanyikan ulang antara lain “Menyimpan Rasa” (Devano Danendra), “Satu Bulan” (Bernadya), “Nina” (Feast), dan “Mangu” (Fourtwnty).
Doyoung dan Haechan dari NCT juga pernah berkolaborasi meng-cover lagu “Cinta Luar Biasa” milik Andmesh Kamaleng pada Oktober 2019, yang kemudian menjadi viral. Doyoung juga membawakan lagu Indonesia saat konser solonya di Jakarta pada September 2024.
Dinamika Pertukaran Budaya di Era Digital
Fenomena penerjemahan lagu-lagu populer Indonesia ke versi Korea ini, menurut tim redaksi Mureks, merupakan bukti nyata dinamika pertukaran budaya global di era digital. Kita tidak lagi berada dalam skenario dominasi budaya satu arah, melainkan ekosistem yang saling terhubung, di mana elemen lokal dapat bertransformasi menjadi sesuatu yang internasional dengan balutan bahasa dan estetika berbeda.
Ada beberapa sudut pandang utama yang dapat membedah fenomena menarik ini:
- “Koreanisasi” Estetika dan Bahasa
Lagu-lagu Indonesia dan Jawa menjadi menarik dalam versi Korea karena keselarasan emosional yang tak terduga. Fonetik bahasa Korea yang lembut membangkitkan pesona estetika tinggi. Lagu Jawa seperti “Lali Janjine” (Safira Inema) atau “Sial” (Mahalini), ketika diadaptasi ke melodi dan lirik Korea, dapat bergeser persepsinya. Lagu yang semula mengasosiasikan suasana pedesaan atau patah hati, mendadak terdengar seperti soundtrack drama Korea yang megah dan emosional. Struktur kalimat bahasa Korea yang kaya rima memperdengarkan ekspresi perasaan yang menukik ke ceruk terdalam.
- Peran Kreator Konten dan Diaspora
Tren ini muncul berkat kreator konten, umumnya warga Korea Selatan yang pernah tinggal di Indonesia atau memiliki perhatian terhadap budaya Nusantara. Nama-nama seperti Jang Hansol (Korea Reomit), Gimbab Family, atau Kim Ji Hoon, memiliki pengaruh besar. Mereka menjadi “jembatan budaya” yang menunjukkan keintiman relasi Indonesia dan Korea Selatan. Musikus cover di platform digital juga jeli membaca selera publik, menciptakan produk hibrida yang merawat cengkok atau melodi asli, menumbuhkan kebanggaan audiens lokal.
- Kemiripan Struktur Melodi dan Sentimentalitas
Secara teknis, banyak lagu populer Indonesia, terutama yang bertema galau, memiliki kemiripan struktur melodi dengan balada Korea. Musik dangdut atau campursari Jawa sering mengandalkan progresi akord melankolis dan lirik tentang kehilangan atau kesetiaan, elemen “makanan pokok” dalam industri musik Korea Selatan. Adaptasi berjalan mulus; instrumen kendang yang bersulih denting piano atau aransemen orkestra khas K-Drama tetap kuat mengiriskan pesan emosional yang seatmosfer. Ini membuktikan musik adalah bahasa universal yang melampaui batas linguistik.
- Dampak Psikologis dan Budaya Validasi Global
Tren ini mengusung validasi terhadap eksistensi musik lokal. Stigma terhadap musik dangdut atau lagu daerah sebagai kesenian marginal perlahan luruh ketika hadir dalam kemasan musik dan lirik Korea. Ini memperkuat kesadaran bahwa kekuatan lagu adalah paduan harmonis komposisi dan citra bahasanya. Tren ini juga memperluas jangkauan audiens, seringkali menarik warga Korea Selatan atau pendengar internasional untuk menikmati versi aslinya. Dengan demikian, ini berfungsi sebagai promosi organik dan efektif di platform digital seperti Spotify atau TikTok.
Fenomena lagu Indonesia dan Jawa versi Korea ini adalah simbol keinklusifan budaya di era modern. Identitas lokal tidak punah, melainkan memperoleh pengayaan dan menjangkau audiens lebih luas melalui adaptasi kreatif. Ini adalah bentuk apresiasi timbal balik yang patut dimaknai positif. Dengan akses teknologi penerjemahan dan produksi musik rumahan yang semakin mudah, fenomena ini kemungkinan besar akan terus berkembang, bahkan berpotensi memicu kolaborasi resmi musikus tradisional Indonesia dengan produser K-Pop di masa depan.






