Nasional

Menelusuri Jejak Perjalanan Kurikulum Pendidikan Nasional: Dari Kemerdekaan hingga Era Merdeka Belajar

Perjalanan pendidikan nasional Indonesia tak lepas dari evolusi kurikulum yang terus beradaptasi dengan zaman. Sejak awal kemerdekaan hingga era digital, kurikulum menjadi fondasi pembentukan karakter dan identitas bangsa. Mureks mencatat bahwa setiap perubahan kurikulum merefleksikan upaya negara dalam menjawab tantangan pendidikan dan kebutuhan masyarakat.

Kurikulum Masa Awal Kemerdekaan: Fondasi Nasionalisme

Lahir setelah proklamasi kemerdekaan, Kurikulum 1947 yang dikenal sebagai Rencana Pelajaran Terurai, mulai disusun sejak 1945 dan diterapkan hingga 1950. Purwati dalam Buku Bahan Ajar Kurikulum Pembelajaran menjelaskan, “kurikulum pertama Indonesia, yaitu Kurikulum 1947, lahir setelah kemerdekaan dan berfokus pada pembentukan watak nasionalisme sebagai identitas bangsa yang merdeka.”

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

Kurikulum ini menandai pergeseran fundamental dari sistem pendidikan kolonial Belanda menuju pendidikan nasional. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Kemendikdasmen, dalam ulasannya bertajuk Kurikulum Pendidikan di Indonesia Sepanjang Sejarah, menyebut bahwa penekanan utamanya adalah pembentukan karakter, semangat kebangsaan, serta penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Pendidikan pada masa itu diarahkan untuk memperkuat rasa cinta tanah air dan persatuan.

Selanjutnya, Kurikulum 1968 hadir menggantikan konsep Pancawardhana dengan tujuan membentuk manusia Pancasila seutuhnya. Kurikulum ini menitikberatkan pada pembinaan jiwa Pancasila, penguasaan pengetahuan dasar, dan pengembangan kecakapan khusus yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Kurikulum Orde Baru: Pembangunan dan Sistematisasi

Memasuki masa Orde Baru, kebijakan pendidikan sangat dipengaruhi oleh agenda pembangunan nasional yang masif. Kurikulum 1975 lahir sebagai dampak dari Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan (PPSP) tahun 1973, menekankan perencanaan pembelajaran yang lebih sistematis dan berorientasi pada tujuan yang jelas.

Jurnal Dimensi Historis Pengembangan Kurikulum terbitan Kemendikbud menjelaskan bahwa Kurikulum 1984 kemudian hadir dengan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Kurikulum ini membagi pembelajaran ke dalam enam bidang utama, meliputi agama, Pendidikan Kewarganegaraan, bahasa, spasiotempo, seni, serta pendidikan jasmani dan kesehatan.

Penyempurnaan berlanjut dengan Kurikulum 1994 yang menambahkan muatan lokal dan sistem pembelajaran berbasis kelas yang lebih terstruktur. Ini menjadi upaya untuk mengakomodasi keberagaman daerah dan memberikan kerangka pengajaran yang lebih rapi.

Kurikulum Era Reformasi: Kompetensi dan Otonomi

Era reformasi membawa perubahan besar dalam sistem pendidikan Indonesia, menggeser fokus dari hafalan materi menuju penguasaan kompetensi. Kurikulum 2004, atau Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), menekankan penguasaan kompetensi dasar oleh peserta didik sebagai tujuan utama.

Zulfikar Adjie, dkk., dalam Buku Telaah Kurikulum dan Buku Teks Pendidikan, menjelaskan bahwa “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 memberikan kewenangan lebih besar kepada sekolah untuk mengelola kurikulum sesuai kebutuhan lokal.” Ini menjadi langkah penting dalam desentralisasi pendidikan.

Kurikulum 2013 selanjutnya memperkuat pendidikan karakter melalui pembelajaran tematik dan integratif. Pendekatan ini bertujuan membentuk siswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki nilai-nilai luhur.

Kurikulum Merdeka: Fleksibilitas untuk Masa Depan

Sebagai respons terhadap tantangan global dan kebutuhan akan pendidikan yang lebih adaptif, Kurikulum Merdeka diperkenalkan pada tahun 2022. Kurikulum ini merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar, dirancang untuk memberi fleksibilitas kepada sekolah dan guru dalam menyusun pembelajaran yang sesuai kebutuhan siswa.

Pada tahun ajaran 2023, Indonesia mulai mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara bertahap di banyak sekolah sebagai pilihan mandiri satuan pendidikan. Sekolah dapat memilih opsi struktur Kurikulum Merdeka sesuai kesiapan mereka, seperti mandiri belajar, mandiri berubah, dan mandiri berbagi. Implementasi ini memungkinkan siswa mempelajari materi esensial secara lebih mendalam dan bermakna sesuai minat serta kompetensinya.

Mulai tahun ajaran 2024, Kurikulum Merdeka semakin meluas dan diproyeksikan menjadi kurikulum nasional yang menggeser secara perlahan peran Kurikulum 2013. Menurut Mureks, banyak sekolah kini menerapkan Kurikulum Merdeka dengan penekanan pada pembelajaran yang fleksibel, proyek pembelajaran, dan penguatan profil pelajar yang kreatif serta berdaya saing, guna mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.

Mureks