Niat untuk menabung sering kali kandas di tengah jalan, bahkan sebelum satu bulan berlalu. Tekanan biaya hidup yang terus meningkat, mulai dari kebutuhan dapur, tagihan sekolah, cicilan, hingga pengeluaran tak terduga, menjadi penyebab utama kegagalan resolusi keuangan ini.
Namun, para perencana keuangan menekankan bahwa menabung bukanlah soal kesempurnaan, melainkan konsistensi. Target yang terlalu ambisius justru dapat membuat rumah tangga menyerah sebelum memulai.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Perencana keuangan Cynthia Luna, seperti diwartakan Reuters, mengingatkan pentingnya menetapkan target menabung yang tidak memicu rasa gagal sejak awal. “Cara yang tepat adalah dengan menggunakan langkah-langkah kecil dan membuatnya mudah dicapai serta memotivasi, karena Anda tidak ingin gagal dalam resolusi keuangan Anda,” ujar Luna.
Berangkat dari pendekatan langkah kecil tersebut, berikut adalah kerangka praktis untuk menetapkan target menabung yang realistis, yang dapat dicapai tanpa membuat arus kas rumah tangga terengah-engah, menurut catatan Mureks:
1. Audit Arus Kas Selama 30 Hari
Target menabung yang realistis selalu berawal dari pemahaman dasar mengenai berapa banyak uang yang benar-benar tersisa setelah semua kebutuhan pokok dan kewajiban finansial terpenuhi. Banyak rumah tangga merasa kesulitan menabung karena semua pengeluaran tampak sama pentingnya.
Oleh karena itu, langkah pertama bukanlah menentukan nominal tabungan, melainkan memetakan pola pengeluaran selama 30 hari. Ini bukan untuk menghakimi kebiasaan belanja, melainkan untuk mengelompokkan pengeluaran ke dalam tiga kategori:
- Kebutuhan Wajib: Meliputi makan, transportasi kerja, listrik, air, komunikasi, sewa atau cicilan rumah, dan pendidikan dasar.
- Kewajiban Finansial: Termasuk cicilan, premi asuransi, iuran, dan pembayaran utang.
- Belanja Fleksibel: Kategori ini mencakup hiburan, langganan, makan di luar, belanja impulsif, dan biaya kecil harian.
Setelah peta pengeluaran ini terbentuk, rumah tangga dapat mengidentifikasi ruang untuk menabung. Sering kali, potensi tabungan bukan berasal dari pemotongan kebutuhan wajib, melainkan dari “kebocoran kecil” yang selama ini tidak disadari.
2. Ubah Target Besar Menjadi Target Bertahap
Konsep dana darurat ideal yang setara dengan 3 hingga 6 bulan pengeluaran sering kali terasa menakutkan bagi rumah tangga yang masih bergulat dengan biaya harian. Oleh karena itu, banyak praktisi menyarankan untuk memulai dengan milestone kecil.
Associated Press (AP) menulis bahwa gagasan menabung setara 3 sampai 6 bulan pengeluaran bisa terasa menakutkan, sehingga lebih baik memulai dari tonggak yang lebih kecil. Mureks merangkum, sebaiknya tetapkan target awal yang terasa ringan namun nyata, seperti berikut:
| Target | Jangka Waktu | Nominal/Jumlah |
|---|---|---|
| Target 1 | 2 sampai 8 minggu | Rp 250.000 sampai Rp 1 juta pertama |
| Target 2 | 3 sampai 6 bulan | 1 bulan biaya hidup |
| Target 3 | 6 sampai 18 bulan | 3 bulan biaya hidup |
| Target 4 | Lebih dari 18 bulan | 6 bulan biaya hidup (khususnya bila pendapatan tidak stabil) |
Langkah-langkah kecil ini memiliki dua manfaat utama: memberikan rasa progres dan mengurangi risiko target menabung mengganggu pemenuhan kebutuhan pokok.
3. Terapkan Rumus Aman: Mulai Persentase Kecil, Naikkan Otomatis
Kegagalan menabung sering kali bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena target yang tidak selaras dengan kemampuan arus kas. Pendekatan yang banyak dianjurkan adalah memulai dengan persentase kecil dari pendapatan dan menaikkannya secara bertahap, bukan langsung melompat ke angka besar.
Strategi ini membantu membangun kebiasaan menabung tanpa membebani keuangan secara drastis di awal, sehingga konsistensi lebih mudah terjaga.






