Keuangan

UBS Lepas Ratusan Juta Saham BUMI Senilai Rp 133,8 Miliar pada Awal Januari 2026

UBS AG, London, salah satu pemegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dilaporkan telah melepas ratusan juta saham emiten pertambangan tersebut pada awal Januari 2026. Transaksi penjualan ini terjadi pada 6 Januari 2026, dengan total nilai mencapai Rp 133,80 miliar.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), UBS AG menjual sebanyak 289.629.900 saham BUMI. Setiap saham dilepas dengan harga Rp 462. Setelah transaksi ini, kepemilikan UBS pada BUMI berkurang dari sebelumnya 22.425.165.266 saham atau setara 6,05 persen, menjadi 22.135.535.366 saham atau setara 5,96 persen.

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Tujuan dari transaksi ini, seperti yang disebutkan dalam laporan, adalah untuk “aktivitas perdagangan derivatif klien dengan status kepemilikan langsung.”

Pergerakan Saham BUMI dan IHSG

Pada penutupan perdagangan Jumat, 9 Januari 2026, saham BUMI ditutup menguat tipis 0,43 persen ke posisi Rp 462 per saham. Saham BUMI sempat dibuka naik 10 poin ke level Rp 470 per saham, dengan pergerakan harian tertinggi di Rp 480 dan terendah di Rp 458 per saham.

Catatan Mureks menunjukkan, frekuensi perdagangan saham BUMI pada hari tersebut mencapai 237.054 kali, melibatkan volume 74.313.848 saham, dengan nilai transaksi harian mencapai Rp 3,5 triliun.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ditutup menguat 0,13 persen ke posisi 8.936,75 pada 9 Januari 2026. Indeks saham unggulan LQ45 turut menguat 0,05 persen ke posisi 868,02. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di level tertinggi 8.981,02 dan terendah 8.908,17.

Secara keseluruhan, pada perdagangan Jumat pekan ini, sebanyak 359 saham menguat, 318 saham melemah, dan 137 saham stagnan. Total frekuensi perdagangan mencapai 3.468.520 kali dengan volume 57 miliar saham, serta nilai transaksi harian saham mencapai Rp 27,5 triliun.

Pencatatan Obligasi dan Sukuk di BEI

Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mencatat aktivitas pencatatan instrumen utang. Dalam periode 5-9 Januari 2026, BEI mencatat tiga obligasi dan satu sukuk baru.

Pada Rabu, 7 Januari 2026, dua instrumen dari PT Eagle High Plantations tercatat di BEI, yaitu Obligasi Berkelanjutan I Eagle High Plantations Tahap III Tahun 2025 senilai Rp 210 miliar dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Eagle High Plantations Tahap II Tahun 2025 senilai Rp 290 miliar. Keduanya mendapatkan hasil pemeringkatan idA- dan idA- sy dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), dengan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk sebagai wali amanat.

Pada hari yang sama, Obligasi Berkelanjutan V Summarecon Agung Tahap I Tahun 2025 dari PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) juga tercatat dengan nilai Rp 351,96 miliar. Obligasi ini meraih peringkat idA+ dari Pefindo dan menunjuk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai wali amanatnya.

Selain itu, Obligasi Berkelanjutan I Energi Mega Persada Tahap I Tahun 2025 dari PT Energi Mega Persada Tbk senilai Rp 50 miliar mulai tercatat di BEI. Obligasi ini juga mendapatkan peringkat idA+ (Single A Plus) dari PEFINDO dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai wali amanat.

Dengan pencatatan tersebut, total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat sepanjang tahun 2026 mencapai 4 emisi dari 3 emiten senilai Rp 216,97 triliun. Secara keseluruhan, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 662 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp 539,79 triliun dan USD134,010595 juta, yang diterbitkan oleh 136 emiten.

Adapun Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat di BEI berjumlah 190 seri dengan nilai nominal Rp 6.484,29 triliun dan USD352,10 juta. Sementara itu, Efek Beragun Aset (EBA) tercatat sebanyak 6 emisi senilai Rp 3,99 triliun.

Mureks