Saham Intel Corp. melonjak 11 persen pada Jumat (9/1/2026), mencatat kenaikan harian terbesar sejak September 2025. Lonjakan signifikan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka memuji kemajuan teknologi dan kinerja pasar saham produsen cip tersebut.
Kenaikan saham Intel menjadi USD 45,55 di New York pada Jumat lalu merupakan lonjakan harian terbesar sejak 18 September 2025. Secara keseluruhan, setelah kenaikan 84 persen pada tahun 2025, saham Intel kini telah naik sekitar 23 persen sepanjang tahun ini.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
Presiden Trump bertemu dengan CEO Intel, Lip-Bu Tan, pada Kamis (8/1/2026) di Gedung Putih. Dalam pertemuan tersebut, kedua tokoh membahas lini prosesor baru perusahaan, menyusul langkah pemerintah AS yang telah mengakuisisi sebagian saham pembuat cip tersebut.
Melalui unggahan di jaringan Truth Social miliknya, Trump memuji kemajuan terbaru Intel yang berbasis di Santa Clara, California. Saham perusahaan itu telah naik sekitar 90 persen sejak rencana pemerintah federal untuk membeli hingga 10 persen saham perusahaan muncul tahun lalu.
Sejauh ini, AS telah mengumpulkan sekitar 5,5 persen saham, dan akuisisi lebih lanjut direncanakan. Trump menegaskan, “Saya baru saja menyelesaikan pertemuan yang hebat dengan CEO Intel yang sangat sukses, Lip-Bu Tan. Kami membuat Kesepakatan HEBAT, dan begitu juga Intel. Negara kita bertekad untuk membawa kembali manufaktur chip terdepan ke Amerika, dan itulah yang sedang terjadi!!!”
Sejak menjabat sebagai CEO pada Maret 2025, Lip-Bu Tan telah bergerak cepat untuk mencoba memperbaiki bisnis pembuat cip yang sempat bermasalah. Selain investasi dari pemerintah AS, Nvidia Corp. dan SoftBank Group Corp. juga telah mengakuisisi saham Intel senilai miliaran dolar AS.
Meskipun kesepakatan-kesepakatan ini telah menaikkan harga saham Intel, perusahaan masih perlu menunjukkan bahwa produk-produk barunya dapat merebut kembali pangsa pasar yang hilang. Tan mengatakan, pada konferensi industri minggu ini, Intel mulai mengirimkan produk 18A sub-2-nanometer pertamanya sesuai jadwal pada akhir tahun 2025. Namun, perusahaan itu sendiri masih bergantung pada Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) untuk beberapa fabrikasi cip.
Dalam unggahannya, Trump mengklaim bahwa pemerintah telah menghasilkan “Puluhan Miliar Dolar untuk Rakyat Amerika” dari kepemilikan saham Intel. Namun, keuntungan sebenarnya bagi AS dari kepemilikannya sejauh ini masih kurang dari angka tersebut. Saat dibeli pada Agustus 2025, saham AS bernilai USD 5,7 miliar atau sekitar Rp 96 triliun (dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.840).
Jika wajib pajak saat ini memiliki semua saham yang tersedia dalam pengaturan yang rumit, saham tersebut akan bernilai USD 27,7 miliar atau Rp 466,55 triliun. Saat ini, kepemilikan publik berada sedikit di atas USD 11 miliar atau Rp 185,27 triliun. Juru bicara Intel merujuk pada pengajuan publik untuk saham AS, sementara Gedung Putih tidak memberikan komentar segera.
Sebelumnya, Nvidia telah membeli saham Intel senilai USD 5 miliar atau sekitar Rp 83,82 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.760). Transaksi ini disampaikan Nvidia dalam pengajuan dokumen pada Senin, 29 Desember 2025. Perancang cip kecerdasan buatan (AI) ini pernah menyatakan pada September 2025 akan membayar USD 23,28 per saham untuk saham biasa Intel.
Kesepakatan ini dipandang sebagai penyelamat keuangan utama bagi produsen cip tersebut, setelah bertahun-tahun mengalami kesalahan dan ekspansi kapasitas produksi yang membutuhkan modal besar yang menguras keuangannya. Perusahaan paling berharga di dunia ini telah membeli lebih dari 214,7 juta saham Intel dengan harga yang ditetapkan dalam perjanjian September, melalui penempatan pribadi. Badan antimonopoli AS telah menyetujui investasi Nvidia di Intel, menurut pemberitahuan yang diposting oleh Komisi Perdagangan Federal AS pada awal Desember 2025.
Dalam ringkasan Mureks, pembelian saham oleh Nvidia ini terjadi beberapa minggu setelah pemerintah Amerika Serikat (AS) mengambil sekitar 10 persen saham Intel. Pada Agustus 2025, Presiden AS Donald Trump dan Intel mengumumkan investasi pemerintah sebesar USD 8,9 miliar atau Rp 147,20 triliun pada saham biasa Intel, dengan Trump menyebutnya sebagai “Perusahaan Amerika Hebat yang memiliki masa depan yang lebih luar biasa.”






