Keuangan

Kimia Farma (KAEF) Kantongi Modal Kerja Rp 846 Miliar dari Danantara, Perkuat Operasional Bisnis

PT Kimia Farma Tbk (KAEF) berhasil mengamankan pinjaman pemegang saham atau Shareholder Loan (SHL) senilai Rp 846 miliar. Pendanaan ini merupakan bagian dari Rencana Restrukturisasi Perusahaan (RRP) yang tengah dijalankan KAEF untuk menopang stabilitas keuangan dan mendorong pertumbuhan bisnis.

Dana segar tersebut bersumber dari PT Danantara Asset Management yang disalurkan melalui PT Bio Farma (Persero), selaku induk usaha Kimia Farma. Menurut GM Corporate Secretary PT Kimia Farma Tbk, Ida Rasita, pendanaan ini akan langsung mendukung operasional bisnis perseroan, berdampak positif pada produksi dan penjualan.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

“Pendanaan senilai Rp846 miliar bersumber dari PT Danantara Asset Management yang disampaikan melalui dari PT Bio Farma (Persero) sebagai holding dari Kimia Farma,” ujar Ida Rasita pada Sabtu (10/1/2026).

Penyaluran dana dari Bio Farma kepada Kimia Farma melalui mekanisme SHL ini akan dilakukan setelah seluruh syarat dan ketentuan pencairan terpenuhi. Skema pendanaan tersebut telah melalui proses terstruktur dan disesuaikan dengan kebijakan pemegang saham, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, akuntabilitas, serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Rencana penerimaan SHL juga telah memperoleh pendapat kewajaran dari pihak independen.

Kinerja Positif di Tengah Restrukturisasi

Perolehan modal kerja ini diharapkan memberikan dampak positif signifikan terhadap kinerja KAEF, khususnya dalam menambah modal kerja untuk kegiatan operasional. Dengan demikian, perseroan menargetkan peningkatan kinerja dan keberlangsungan usaha yang lebih terjamin ke depan.

Sebelumnya, Kimia Farma telah menunjukkan perbaikan kinerja yang signifikan. Catatan Mureks menunjukkan, perseroan berhasil memangkas kerugian pada triwulan III/2025 menjadi Rp 234,1 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan kerugian Rp 550,8 miliar pada periode yang sama tahun 2024. Ini berarti KAEF berhasil mengurangi kerugian sebesar Rp 316,7 miliar.

Pencapaian ini didukung oleh penurunan beban usaha sebesar 9,3% menjadi Rp 2,4 triliun pada triwulan III/2025, dari sebelumnya Rp 2,6 triliun. Selain itu, Harga Pokok Penjualan (HPP) juga turun 4,9%, yang berimbas pada peningkatan persentase laba kotor terhadap penjualan (gross margin) menjadi 34,9% di triwulan III/2025, naik dari 29,9% pada triwulan III/2024.

Direktur Utama KAEF, Djagad Prakasa Dwialam, pada Senin (3/11/2025) mengungkapkan, “Strategi kami dalam melakukan perampingan jumlah SKU, mendorong penjualan bermargin tinggi, efisiensi opex, dan program digitalisasi sudah menunjukan hasil yang positif.”

Inovasi dan Perluasan Layanan Kesehatan

Di samping upaya efisiensi, Kimia Farma juga aktif mendorong pertumbuhan penjualan melalui inovasi layanan kesehatan. Perseroan terus memperkuat posisinya sebagai pionir pengembangan stem cell (sel punca) dan turunannya.

Kerja sama dengan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo gencar dilakukan untuk mengembangkan layanan terapi stem cell hingga ke berbagai daerah. Perluasan kerja sama ini telah disepakati dengan tiga rumah sakit di Pulau Jawa dan Sumatera, yaitu RSUP Dr. Kariadi Semarang, RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, dan RSUD Siti Fatimah Palembang. Langkah ini bertujuan mempermudah jangkauan layanan dan mempercepat pemerataan akses kesehatan regeneratif.

KAEF juga berfokus pada peningkatan kualitas layanan di gerai retailnya, seperti Apotek Kimia Farma, Klinik, dan Laboratorium Kimia Farma. Inovasi bisnis ini diyakini akan terus berlanjut sebagai strategi Kimia Farma untuk menjadi perusahaan yang unggul dan kompetitif dalam menghadapi tantangan masa depan.

Mureks