Proyeksi pergerakan nilai tukar Rupiah dan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) pada tahun 2026 menjadi sorotan utama pelaku pasar. Investment Director Sucor Asset Management, Dimas Yusuf, mengungkapkan pandangannya terkait kondisi ekonomi global dan domestik yang akan memengaruhi keputusan investasi.
Menurut Dimas, ketegangan geopolitik global diperkirakan akan berlanjut sepanjang tahun 2026. Salah satu pemicu utama adalah insiden serangan dan penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat, yang telah mengubah pandangan pelaku pasar secara signifikan. Peristiwa ini, lanjutnya, memiliki dampak langsung terhadap pergerakan harga komoditas migas, yang pada gilirannya akan memengaruhi ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
Jika inflasi di AS terus menunjukkan tren penurunan, terutama didorong oleh mendinginnya inflasi terkait bahan bakar minyak (BBM) dan sektor perumahan, serta membaiknya pasar tenaga kerja, maka potensi pemangkasan Fed Funds Rate (FFR) bisa terjadi lebih dari satu kali di tahun 2026. Catatan Mureks menunjukkan, penurunan FFR yang lebih agresif dari The Fed akan membuka peluang lebih besar bagi Bank Indonesia untuk memangkas level BI Rate, bahkan bisa sama atau lebih tinggi dari The Fed.
Meskipun demikian, arah kebijakan suku bunga BI juga akan sangat mempertimbangkan stabilitas nilai tukar Rupiah. Dimas Yusuf memproyeksikan Rupiah berpotensi terus menguat di tahun 2026. Penguatan ini didukung oleh upaya pemerintah dalam mendorong devisa melalui proyek-proyek hilirisasi. Namun, mata uang Garuda diperkirakan masih akan bergerak di sekitar level saat ini.
Menilik kondisi ekonomi makro, dinamika geopolitik, serta proyeksi arah kebijakan suku bunga dan nilai tukar Rupiah, Sucor Asset Management menyatakan bahwa arah investasi mereka masih cenderung besar untuk mengincar pasar saham. Pasar saham dinilai lebih menarik dibandingkan dengan instrumen obligasi dan pasar uang dalam kondisi tersebut.
Pandangan ini disampaikan Dimas Yusuf dalam dialognya bersama Syarifah Rahma di program Squawk Box, CNBC Indonesia, pada Rabu, 7 Januari 2026.






