Berita

Manajer Pasar Induk Kramat Jati: Pengangkutan Sampah Menggunung Ditargetkan 5 Hari

Tumpukan sampah yang menggunung di area Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mulai diangkut secara bertahap. Pihak pengelola menargetkan seluruh volume sampah dapat teratasi dan terangkut habis dalam waktu lima hari ke depan.

Upaya Pengangkutan dan Target Waktu

Manajer Pasar Induk Kramat Jati, Agus Lamun, menjelaskan bahwa upaya pengangkutan telah digencarkan sejak Kamis (8/1/2026). “Kemarin itu di hari Kamis ini sudah ada 25 armada, dan sudah dilakukan 31 ritase pengangkutan ke Pasar Induk Kramat Jati,” kata Agus kepada wartawan di lokasi, Jumat (9/1/2026).

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Agus optimistis, jika konsistensi pengerahan 25 armada ini dapat dipertahankan, penumpukan sampah akan menyusut signifikan. “Nah, kita berharap kalau konsistensi 25 armada ini, maka bisa dipastikan lima hari ke depan, lima hari ke depan, maka penumpukan sampah ini akan sudah terlihat lebih menyusut dan lebih mantap,” tegasnya.

Penyebab Penumpukan dan Volume Sampah Harian

Penumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati mulai terjadi sejak November 2025. Menurut Agus, hal ini dipicu oleh pengurangan armada pengangkut sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta. Dari biasanya 15 armada, jumlahnya berkurang drastis.

“Belakangan di bulan terakhir ini pengiriman armada itu hanya sekitar 7-8 armada. Nah, oleh karenanya terjadi deposit sampah,” ungkap Agus. Menurut pantauan Mureks, aktivitas pedagang yang beroperasi 24 jam setiap hari menghasilkan volume sampah yang masif, mencapai 120 hingga 150 ton per hari.

Dampak Pembusukan Sampah Organik

Agus menambahkan, sebagian besar sampah yang dihasilkan di pasar ini adalah sampah organik. Sifat sampah organik yang cepat membusuk menjadi pemicu utama bau tak sedap yang mengganggu.

“Sampah kita ini sebenarnya sampah organik. Ketika tidak diangkut 2-3 hari maka akan terjadi pembusukan inilah kemudian yang menyebabkan ketidaknyamanan karena bau. Ya, yang dirasakan oleh baik para pedagang maupun masyarakat yang ada di sekitar,” jelas Agus, menyoroti dampak langsung terhadap kenyamanan pedagang dan warga sekitar.

Mureks