Nasional

Mahasiswa Indonesia di Istanbul: “Kesempatan Langka Terlibat Aksi Bela Palestina, Ada Perasaan Berbeda”

Ribuan massa aksi memadati Jembatan Galata, , pada Rabu, 1 Januari 2026, dalam gelaran . Di antara lautan bendera Palestina yang berkibar, sejumlah mahasiswa Indonesia turut mengambil peran aktif, menunjukkan konsistensi dukungan generasi muda Tanah Air terhadap kemerdekaan bangsa Palestina.

Salah satu mahasiswa Indonesia yang terlibat adalah Fahri Muhammad Fatih. Ini merupakan pengalaman pertamanya menjadi relawan dalam aksi solidaritas internasional tersebut. Fatih mengaku mulai ditawari untuk menjadi bagian dari tim relawan sejak 29 Desember 2025, dan langsung bertugas pada hari pelaksanaan aksi.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

“Ini kali pertama saya terlibat sebagai volunteer. Tugas saya adalah membagikan bendera Palestina kepada peserta aksi sejak pukul 06.30 pagi hingga agenda berakhir sekitar pukul 10.00,” ujar Fatih, saat diwawancarai pada Jumat, 9 Januari 2026.

Persiapan teknis aksi, termasuk pembagian tugas relawan, telah dikoordinasikan sehari sebelumnya melalui grup WhatsApp. Pada hari-H, persiapan lebih lanjut dilakukan secara singkat setelah Shalat Subuh berjamaah di masjid-masjid sekitar lokasi, seperti Yeni Camii, Hagia Sophia, dan Sultan Ahmet, sebelum massa berkumpul di Jembatan Galata.

Aksi Bela Palestina di Istanbul ini bukan kali pertama digelar. Catatan Mureks menunjukkan, agenda ini merupakan kegiatan tahunan yang telah dilaksanakan tiga kali berturut-turut setiap 1 Januari sejak 2024. Konsistensi ini menjadi bentuk solidaritas berkelanjutan terhadap rakyat Gaza yang masih menghadapi keterbatasan akses kebutuhan dasar, meskipun gencatan senjata telah berlangsung pasca-genosida yang dimulai 7 Oktober 2023.

Aksi secara resmi dimulai pukul 08.30 waktu setempat, diisi dengan orasi-orasi kemanusiaan yang menyuarakan tuntutan keadilan dan pemenuhan hak hidup layak bagi rakyat Gaza. Suasana semakin syahdu dengan pelepasan balon sebagai simbol solidaritas, serta lantunan lagu-lagu Palestina dari Maher Zain dan musisi lainnya.

Slogan utama yang diusung dalam aksi ini adalah “Sinmiyoruz, Susmuyoruz, Filistin’i Unutmuyoruz”, yang memiliki arti “Kami tidak gentar, Kami tidak tinggal diam, Kami tidak melupakan Palestina.”

Fatih bekerja di bawah koordinasi Türkiye Gençlik Vakfı (TÜGVA), sebuah organisasi kepemudaan di Turki. Aksi ini sendiri diinisiasi oleh Milli İrade Platformu dan melibatkan berbagai elemen masyarakat sipil, menunjukkan dukungan luas dari berbagai lapisan masyarakat Turki.

Pemilihan Istanbul sebagai lokasi aksi bukan tanpa alasan. Menurut Fatih, kota terbesar dan paling strategis di Turki ini dipilih agar aksi dapat menarik atensi publik dan media yang lebih luas, sehingga pesan solidaritas dapat tersampaikan secara global.

“Bagi saya, ini kesempatan yang mungkin tidak bisa saya rasakan di Indonesia. Ada perasaan berbeda ketika bisa terlibat langsung, meskipun perannya sederhana dan sedikit,” ungkap Fatih, menggambarkan kesan mendalamnya terhadap partisipasi ini.

Ia juga menegaskan bahwa isu Palestina adalah isu universal yang membutuhkan kerja kolektif dan terorganisir lintas bangsa, bukan hanya tanggung jawab satu negara. Kehadiran mahasiswa Indonesia dalam aksi ini, menurut Fatih, adalah bentuk nyata dari amanat Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan harus dihapuskan.

Partisipasi mahasiswa Indonesia disambut positif oleh warga Istanbul. Aksi berlangsung dengan aman dan tertib tanpa kendala berarti. Bahkan, sejumlah pemerintah distrik turut mendukung dengan mengirimkan truk makanan untuk para peserta aksi.

“Banyak mahasiswa Indonesia merasa berkesan. Saya sendiri merasa beruntung bisa bertemu banyak orang baru yang memiliki pemikiran yang sama, terutama terkait isu Palestina,” tutup Fatih, mengakhiri ceritanya tentang pengalaman berharga di Jembatan Galata.

Mureks