Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya pada akhir pekan lalu, Selasa (6/1/2026), kembali membuka perbincangan mengenai masa depan industri minyak di negara Amerika Latin tersebut. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat menyatakan bahwa perusahaan minyak AS akan memegang peran kunci dalam revitalisasi sektor minyak Venezuela yang telah terpuruk selama bertahun-tahun.
Namun, para analis menilai realisasi rencana tersebut tidak akan mudah. Mengembalikan minat perusahaan energi AS untuk berinvestasi di Venezuela membutuhkan lebih dari sekadar pergantian kepemimpinan politik. Stabilitas politik, kepastian hukum, dan kejelasan fiskal menjadi faktor krusial yang hingga kini masih diselimuti ketidakpastian.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Stabilitas Politik Jadi Prasyarat Utama Investasi
Para pelaku industri energi AS diperkirakan akan bersikap sangat hati-hati dalam merespons perubahan politik di Caracas. Menurut mereka, pemerintah Venezuela perlu terlebih dahulu menunjukkan stabilitas politik yang nyata setelah bertahun-tahun dilanda kekacauan. Mureks mencatat bahwa tanpa fondasi politik yang kokoh, investasi jangka panjang akan selalu berisiko tinggi.
David Goldwyn, presiden Goldwyn Global Strategies sekaligus ketua kelompok penasihat energi di Atlantic Council, menegaskan pandangan ini. “Perusahaan akan membutuhkan lingkungan fisik yang stabil, yang sangat tidak pasti saat ini,” kata Goldwyn, seperti dikutip dari CBS News pada Selasa (6/1/2026).
Goldwyn menambahkan, perusahaan energi AS juga akan menunggu kepastian mengenai persyaratan keuangan dan kontrak yang ditawarkan pemerintah Venezuela sebelum memutuskan untuk kembali masuk ke negara tersebut. Selain itu, mereka juga akan membandingkan peluang komersial di Venezuela dengan opsi investasi lain di berbagai belahan dunia.
Jejak Nasionalisasi dan Trauma Investor
Keraguan investor AS juga tidak lepas dari pengalaman pahit di masa lalu. Perusahaan minyak besar AS seperti Exxon Mobil dan ConocoPhillips tidak lagi beroperasi di Venezuela sejak mantan Presiden Hugo Chavez menasionalisasi aset mereka pada tahun 2007. Peristiwa ini meninggalkan trauma mendalam bagi para investor asing.
Saat ini, hanya Chevron yang masih memiliki operasi terbatas di Venezuela, itupun di bawah lisensi khusus dari pemerintah AS. Bagi perusahaan yang ingin kembali masuk ke Venezuela, Goldwyn memperkirakan dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun kembali operasi dari awal.
Pendatang baru harus membuat perhitungan jangka panjang terkait biaya produksi dan proyeksi harga minyak global, yang pada akhirnya akan meningkatkan risiko investasi secara signifikan. “Itu adalah komitmen jangka panjang, dan karenanya jauh lebih berisiko,” ujar Goldwyn.






