Para pemimpin dan pejabat tinggi dari sekitar 35 negara yang tergabung dalam Coalition of the Willing berkumpul di Paris pada Rabu, 7 Januari 2026. Pertemuan ini menjadi upaya terbaru untuk menyepakati jaminan keamanan bagi Kyiv, Ukraina, jika gencatan senjata dalam perang Rusia-Ukraina tercapai. Koalisi ini dibentuk oleh negara-negara Eropa untuk memperkuat keamanan regional, menyusul perubahan kebijakan di Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Paris ini berlangsung hampir empat tahun setelah invasi Rusia pada Februari 2022. Upaya diplomatik ini diwarnai dinamika baru setelah penangkapan Pemimpin Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat. Maduro dikenal sebagai sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin, yang menambah elemen ketidakpastian dalam hubungan transatlantik, meskipun para pemimpin Eropa berupaya tidak secara terbuka mengecam operasi militer AS itu.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Daftar Kehadiran dan Agenda Utama
Sebanyak 35 negara terwakili dalam pertemuan Paris, termasuk 27 kepala negara. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Istana Elysee untuk pertemuan bilateral sebelum makan siang kerja dengan para peserta lain. Di antara pemimpin yang hadir adalah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Perdana Menteri Kanada Mark Carney, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni. Washington diwakili oleh Utusan Khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, serta menantu Trump, Jared Kushner. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte juga dijadwalkan hadir. Mureks mencatat bahwa Rusia tidak termasuk dalam agenda pertemuan ini.
Menurut laporan media yang mengutip diplomat, pembicaraan utama akan berfokus pada dokumen rancangan jaminan keamanan untuk Ukraina jika terjadi gencatan senjata. Sebagian anggota koalisi juga mendorong gagasan pengiriman pasukan multinasional ke Ukraina guna mencegah agresi Rusia di masa depan jika gencatan senjata tercapai. Gagasan ini menjadi salah satu pokok bahasan utama, meskipun Moskow secara konsisten menentang kehadiran pasukan NATO di Ukraina.
Tantangan Gencatan Senjata dan Perbedaan Wilayah
Hingga kini, belum ada kesepakatan gencatan senjata yang tercapai. Kedua pihak masih berselisih soal wilayah dalam penyelesaian pasca-perang. Kyiv menegaskan bahwa Rusia harus menarik diri dari seluruh wilayah Ukraina yang didudukinya. Sementara itu, Rusia, yang saat ini menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, mendorong pengakuan penuh atas wilayah Donbas di timur Ukraina.
Upaya Penyelarasan Posisi dan Peran AS
Pihak kepresidenan Prancis menyatakan tujuan utama pertemuan adalah menunjukkan “penyelarasan” antara Washington, Kyiv, dan sekutu Eropa terkait jaminan keamanan bagi Ukraina. Sebelum berangkat ke Paris, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menegaskan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk “memperketat dan menyelaraskan posisi Eropa dan Amerika”, seperti dikutip AFP. Menurut Tusk, hanya tekanan bersama semacam itu yang berpeluang memaksa Rusia menanggapi isu gencatan senjata dan perdamaian secara serius, meski ia mengingatkan agar tidak mengharapkan keputusan final di Paris. Seorang penasihat Presiden Macron menyebut pertemuan ini sebagai puncak dari serangkaian upaya sejak kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih, yang bertujuan mencegah Amerika Serikat “meninggalkan Ukraina”.
Fondasi Diplomatik dan Prioritas Jerman
Sebagai landasan KTT Paris, para penasihat keamanan dari 15 negara, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, serta perwakilan NATO dan Uni Eropa telah berkumpul di Kyiv sepanjang akhir pekan. Perwakilan AS Steve Witkoff mengikuti pembahasan tersebut secara virtual. Kyiv dalam beberapa hari terakhir menyatakan bahwa kerangka kesepakatan gencatan senjata sudah “90 persen” siap. Namun, perbedaan mendasar soal wilayah dan mekanisme jaminan keamanan masih menjadi ganjalan utama.
Sementara itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz menempatkan dukungan bagi Ukraina sebagai salah satu prioritas utama Berlin pada 2026. Dalam surat kepada anggota parlemen, Merz menulis bahwa upaya diplomatik dilakukan “dalam kondisi sulit”. “Rusia menunjukkan sedikit kemauan untuk bernegosiasi, Presiden Zelenskyy berjuang untuk menjaga persatuan di antara warga Ukraina, dan kerja sama transatlantik telah berubah secara mendalam,” tulis Merz. Ia menegaskan keinginan Jerman akan gencatan senjata yang mempertahankan kedaulatan Ukraina dan didukung oleh jaminan keamanan dari Amerika Serikat dan Eropa.
Pertemuan Paris berlangsung hanya sehari setelah Rusia meluncurkan serangan mematikan ke ibu kota Ukraina. Perkembangan ini menegaskan kondisi yang kontras antara intensitas pertempuran di lapangan dan dorongan diplomatik yang terus berlanjut. Kyiv menyatakan bahwa menyerahkan wilayah akan menguntungkan Moskow dan menegaskan tidak akan menandatangani kesepakatan perdamaian karena hal itu menjadi kegagalan dalam mencegah Rusia menyerang lagi. Di sisi lain, tekanan Rusia untuk menguasai penuh wilayah Donbas menunjukkan betapa sulitnya menemukan titik temu. Meski belum menghasilkan keputusan final, KTT Paris ini memperlihatkan upaya berkelanjutan sekutu Ukraina untuk menyelaraskan posisi, memperkuat jaminan keamanan, dan menjaga Ukraina tetap berada di pusat perhatian strategis Barat.






