Internasional

Eddy Soeparno Tekankan Urgensi Kesiapan Daerah Sambut Proyek Waste to Energy Nasional

Pemerintah akan segera meluncurkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WTE) di 34 titik di sejumlah daerah di Indonesia pada tahun ini. Wakil Ketua MPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno, menyambut baik inisiatif ini, namun menekankan urgensi kesiapan daerah dalam menyukseskan program tersebut.

Proyek PSEL merupakan bagian integral dari program hilirisasi pemerintah. Peletakan batu pertama (groundbreaking) untuk proyek-proyek ini dijadwalkan akan berlangsung antara bulan Januari hingga Maret 2026.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

Eddy Soeparno menyatakan dukungannya penuh terhadap program Waste to Energy. “Bertahun-tahun Indonesia menghadapi masalah sampah dan tidak ada solusi komprehensifnya. Terobosan Presiden Prabowo dengan program WTE menjadi kebijakan penting dalam memenuhi hak warga untuk lingkungan hidup yang bersih dan sehat sekaligus menghasilkan energi terbarukan,” ujar Eddy, seperti dilansir siaran pers pada Kamis (7/1/2026).

Doktor Ilmu Politik dari Universitas Indonesia ini juga mengungkapkan keterlibatannya dalam penyusunan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang WTE. Menurut Mureks, ia memberikan masukan agar program ini dapat bersinergi dengan kesiapan daerah. “Mulai dari pemda, perangkat hingga warga dalam impelementasinya,” ungkapnya.

Selama fase persiapan program WTE, Eddy Soeparno aktif menjalin dialog dengan sejumlah wali kota di beberapa daerah prioritas penerapan program. Ia mencatat adanya berbagai aspirasi yang disampaikan oleh kepala daerah terkait pelaksanaan program ini.

“Berbagai aspirasi disampaikan seperti misalnya mengenai upaya memaksimalkan kapasitas 1000 ton hingga bagaimana agar program WTE ini sejalan dengan upaya mengubah perilaku masyarakat di hulu-nya,” kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional itu.

Eddy juga menyoroti pentingnya daerah mempersiapkan masa transisi selama program ini dipersiapkan, khususnya dalam menghadapi lonjakan sampah menjelang Lebaran atau hari-hari besar lainnya.

“Persiapan masa transisi ini dapat dilakukan dengan penguatan layanan dasar pengelolaan sampah, optimalisasi pengangkutan sampah, penataan tempat penampungan sementara, serta penertiban praktik pembuangan liar,” jelas Eddy.

Ia menambahkan, “Perlu dilakukan penerapan pemilahan sampah sederhana di tingkat masyarakat, dengan fokus pada pemisahan sampah organik dan anorganik bernilai.”

Mureks