Kabut tipis masih setia menyelimuti punggung bukit Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, pada Kamis (01/01/2026) sore. Di tengah pemandangan itu, Juhdi, seorang pria berusia 50-an, menatap hamparan sawahnya dengan pandangan penuh harap. Ketua Kelompok Tani Fajar Bakti Desa Sirnajaya ini melihat petak-petak sawah yang menampilkan bulir padi berwarna gelap, kontras dengan dominasi hijau kekuningan padi biasa di sekitarnya. Bulir-bulir gelap itu, yang dikenal sebagai beas hideung cigadog, bukan sekadar pemandangan unik, melainkan sebuah “harta karun” tersembunyi di tanah Priangan.
Varietas padi hitam lokal ini memiliki sejarah panjang dan nilai yang istimewa. Di masa kekaisaran China, beras hitam dikenal sebagai forbidden rice, sajian eksklusif yang hanya diperuntukkan bagi meja makan kaisar, dipercaya dapat memperpanjang umur. Namun, di Gunung Halu, mitos eksklusivitas tersebut telah bertransformasi menjadi penopang ekonomi yang nyata bagi para petani.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Juhdi, yang telah menanam varietas ini secara intens sejak tahun 2000-an, menegaskan nilai historisnya. “Ini warisan leluhur, sudah turun-temurun. Dan sejak tahun 2000-an saya sudah mulai tanam dengan intens,” ujar Juhdi, seperti yang dipantau Mureks, sambil menunjukkan malai padi yang merunduk berat.
Nilai Ekonomi dan Tantangan Budidaya
Nilai ekonomi beas hideung cigadog jauh melampaui padi putih biasa. Gabah padi putih umumnya dihargai Rp700.000 per kuintal, sementara gabah beas hideung bisa menembus angka Rp1.000.000 per kuintal. Ketika diolah menjadi beras, harganya mencapai Rp20.000 per kilogram di tingkat petani, jauh di atas harga beras premium di pasaran.
Namun, di balik kilau harga tersebut, terdapat tantangan budidaya yang tidak ringan. Usia tanam beas hideung rata-rata mencapai 5-6 bulan, atau dua bulan lebih lama dibandingkan padi putih. Meskipun demikian, Juhdi berhasil memanen setiap empat bulan berkat lokasi lahannya yang berada di lembah dengan pasokan air melimpah. Tantangan lain adalah produktivitasnya yang hanya sekitar tiga ton per hektare, separuh dari hasil padi biasa. Oleh karena itu, peran pupuk sebagai nutrisi bumi menjadi sangat vital. Tanpa asupan pupuk yang tepat, varietas lokal yang rentan ini berisiko gagal menghasilkan bulir terbaiknya.
Peran Strategis Pupuk Indonesia dalam Ketahanan Pangan
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki luas panen padi 1,47 juta hektare dengan total produksi 8,62 juta ton gabah kering giling (GKG). Di Kabupaten Bandung Barat sendiri, dari total produksi padi 148.802 ton, beas hideung memang mengambil porsi kecil, namun signifikan sebagai komoditas premium.
Untuk memastikan produksi varietas unggul ini tidak mati suri, PT Pupuk Indonesia hadir tidak hanya sebagai penyalur pupuk, tetapi juga sebagai penjaga ketahanan pangan hingga ke pelosok desa. Donny Rachman Wiratama, Manajer Jabar 2 dan DKI Jakarta PT Pupuk Indonesia Niaga, menegaskan komitmen tersebut bukanlah janji kosong. Menurut Mureks, perusahaan ini berperan krusial dalam mendukung petani lokal untuk terus menghasilkan produk pertanian berkualitas, termasuk beas hideung cigadog yang berharga.






